Hidup itu bisa jadi tak semudah yang kita bayangkan, tetapi sering tidak sesulit yang kita kwatirkan..

Thursday, February 27, 2014

Generasi yang Terbelit..

Oleh: Rev DR MH Siburian, M.Min

Kehidupan di kota-kota besar makin semarak dengan berbagai masalah yang memusingkan semua pihak.  Kekerasan, keberingasan, kesadisan yang akhir-akhir ini banyak menonjol dilakukan , terutama oleh mereka yang kebanyakan tinggal di  kota-kota besar, telah
membuat kita merasa was-was.  Apakah yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat kita? Banyak pakar telah membahasnya, seminar diadakan untuk itu, namun rasanya kita belum puas mendapat jawaban yang menyejukkan dahaga, ke-ingintahuan kita. Mungkin kita tidak akan pernah puas mendengar jawaban dari orang lain, karena seharusnya kita sendiri yang menjawab diri kita sendiri.

            Akan adakah kuasa yang absolut untuk membendung masalah ini? Kita harus mencari jawabannya dari diri kita sendiri,
kita harus mempertanyakan apakah kita mempunyai tekad/komitmen untuk mengatasi masalah-masalah ini?  Pada dasarnya, saya melihat ada sedikitnya 4 kharateristik pola perilaku yang negatif di dalam  masyarakat modern sekarang ini, yaitu:
-          penggunaan obat-obat terlarang
-          aksi politik yang radikal
-          kebebasan sexual (sifat permisive) dan
-          perubahan nilai-nilai keluarga.

Semua itu menjadi masalah yang menghantui kita selama ini. Obat-obat terlarang termasuk; pil, ekstasi menjadi pelarian yang mengasikkan bagi banyak anak-anak muda kita sekarang. Pesta ekstasi nampaknya sudah menjadi mode tanpa memikirkan akibat-akibatnya. Pil ekstasi yang dengan sangat mudah diperoleh, dapat menjadi pembenaran (justifikasi) perilaku yang negatif tadi. Mungkin karena belum adanya Undang-Undang yang secara eksplisit dapat menjaring para penyeludup pil ekstasi maka peredarannya  semakin menjadi-jadi. Dari bulan Maret-Juli 1996 saja, telah digagalkan oleh pihak Bea dan Cukai penyeludupan sebanyak 126.221 butir pil ekstasi. Bayangkan bila pil ekstasi 126.221 butir tadi beredar  di masyarakat, berapa banyak lagi korban yang akan dipengaruhi oleh pil tersebut. Jumlah itu tentu masih sangat kecil dibandingkan dengan pil ekstasi yang tidak terjaring oleh Bea Cujai. 

Ini terbukti setelah memakan banyak korban dan digunakan secara bebas, barulah kegiatan pencegahan penyeludupan ini ditingkatkan, lebih-lebih lagi setelah Presiden Republik Indonesia sendiri turut campur tangan. Namun demikian kita salut dan angkat topi untuk bea cukai yang telah bertukus lumus untuk menggagalkan penyeludupan pil ekstasi ini. Di balik semua iitu permasalahannya tidak hanya terletak  di dalam peningkatan pencegahan fisik pil ekstasi untuk tidak beredar di wilayah Indonesia, tetapi tidak lebih dari itu adalah peningkatan usaha mencegah anak-anak muda kita tidak membeli dan atau memakai pil tersebut, walaupun tetap ada berdar di pasaran dan hal ini menyangkut kesehatan mental/rohami anak-anak muda kita. Masalah mental/spiritual health inilah yang menjadi persoalan pokok yang harus ditanggungjawabi bersama oleh seluruh lapisan   masyarakat. 

Bagi saya, nampaknya generasi ini berada dalam satu bentuk kehidupan  yang  membingungkan  mereka  sendiri.  Mereka  terbelit  di dalam  arus  kehidupan  yang  nampaknya  mengalir  kepada  satu  hal  yang kurang  baik.  Mungkin mereka  telah  diajari  secara  implisit  dan eksplisit dengan   ketidakpastian   atau  kesangsian. Mereka  mencari  dimanakah kebenaran yang sesungguhnya.  Dimanakah kebenaran yang dapat membahagiakan mereka. Bila kepastian tentang kebenaran ini masih jauh dari genggaman     maka pegangan untuk dijadikan standard kehidupan menjadi kabur. Nilai kehiduan menjadi kosong (vakum). Kevakuman ini akan membantu mengembangkan degradasi moral, standard kehidupan yang ambruk, ketidakpastian nilai-nilai. 

Prinsipnya adalah bila kita menanam angin, kita sendiri akan menuai badai. Rasul Paulus mengatakan: “menanam dalam dagingnya akan menuai kebinasaan dari dagingnya, manebar dalam Roh akan menuai yang kekal dari Roh itu (Galatia 6:8).

Apa yang kita tuai sekarang adalah apa yang kita tanam kemarin. Perilaku yang negatif yang tersebut di awal, tidaklah terjadi dalam satu hari saja melainkan hasil  akumulatif dari arus kehidupan dan perubahan-perubahan yang dialami oleh generasi itu sendiri dalam struktur sosialnya yang pada hakekatnya telah berjalan lama. Ini berarti bahwa apa yang terjadi sekarang bukan semata-mata melainkan juga tanggungjawab generasi sebelmnya. Setiap generasi akan melahirkan generasi berikutnya, kita harus berani intropeksi diri, bercermin agar dapat mengetahui bahagian mana saja yang perlu dibenahi. Keberingasan para pelajar untuk berkelahi dengan pelajar yang lain, sadisnya perilaku kriminal, lakunya obat-obat terlarang bukanlah kejadian yang berlaku berdiri sendiri, melainkan mempunyai kaitan langsung dari seluruh aspek kehidupan masyarakat kita, baik politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan sebagainya.

Banyak anak muda tidak mempunyai pegangan hidup. Pada hal setiap generasi harus mempunyai standard (ukuran norma/ patokan) hidup. Dengan patokan itu mereka dapat mengukur, menimbang  seluruh  aspek  kehidupan  agar  setiap  generasi  dapat bertahan terhadap setiap perubahan yang berdampak negatif. Hidup tanpa pegangan akan membuat generasi ini seperti bahtera tanpa kemudi. Tidak ada cita-cita yang pasti.  Tidak ada goal dalam kehidupannya dan generasi ini akan terombang-ambing oleh angin/badai perjalanan zaman. 

Nilai-nilai yang dahulu sangat disanjung oleh generasi sebelumnya mungkin mereka tidak dilihat lagi hidup di dalam masyarakat kalaupun ada hanya berupa jargon, ucapan-ucapan klise saja. Mereka telah lama dijejali dengan ujar-ujar yaang kosong saja tanpa kenyataan dalam masyarakat. Bahkan mungkin mereka melihat sendiri batapa munafiknya generasi di atas mereka. Untuk itu harus ada gerakan pembaharuan menyangkut kesehatan mental/spiritual di dalam generasi itu sendiri. Apabila tidak, maka masalah-masalah tadi tidak akan pernah teratasi, dan akan merupakan gelombang yang terus-menerus menerpa generasi demi generasi.

Mental (pikiran/spiritual) yang sehat akan menghasilkan perbuatan yang sehat. Mental yang buruk akan menghasilkan atau menularkan mental yang buruk atau mungkin yang lebih buruk. Penularan virus mental yang buruk ini dapat terjadi  secara metodis dan cepat:  bahkan cekatan sehingga dapat saja menimbulkan  gangguan massal (mass hysteria). Kalau hal ini terjadi, kita dapat membayangkan betapa buruknya nanti situasi yang akan diitimbulkannya.  Virus mental yang tdak sehat ini  dapat merasuk semua kalangan tanpa pilih bulu. Kita amati saja gejala-gejala  kesadisan, keberingasan, kekerasan, terjadi hampir secara serentak di setiap sudut negara, terutama di negara-negara kita. Pelakunya datang dari berbagai lapisan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa perangai buruk telah mulai menyebar dengan cepat seperti virus yang menyebar dan tidak nampak merasuki aspek kehidupan di dalam kehidupan masyarakat kita.  Ini perlu dicermati agar tidak makin parah. Hal ini harus diantisipasi dengan segera untuk memulai perubahan mental/spiritual agar kembali sehat. 

Pembaharuan mental/spiritual ini tidak akan selesai dengan satu hari saja diperlukan waktu, tekad, kemampuan yang keras dari setiap pihak.  Pembaharuan mental/spiritual merupakan satu proses yang terus-menerus bertumbuh. Proses mana harus dijaga, dipelihaara dengan baik dan sistematis. Semua bentuk kesehatan mental/spiritual harus dituangkan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, baik politik, ekonomi, pendidikan, agama dan sebagainya. 

Dengan demikian setiap lapisan, strata masyarakat bertanggungjawab menjaga  dan memelihara kesehatan mental/spiritual ini dengan baik. Setiap orang bertanggungjawab sebagai anggota masyarakat, yang melihat dirinya sebagai bahagian yang integral dari masyarakat itu sendiri, sehingga setiap orang tidak akan melakukan apa saja yang disukainya dengan sesuka hatinya, tanpa perduli kepada orang lain. Bila demikian tatanan masyarakat kita akan rusak dan keadaan tidak akan berangsur-angsur baik. Kita harus dapat menumbuhkan tanggungjawab bersama (colective responssibility). Berani bertanggungjawab bersama-sama atas apa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita. Semoga Tuhan menolong kita.


1 comment:

  1. Link exchange is nothing else but it is just placing the other person's web site link on your page at proper
    place and other person will also do similar in favor of
    you.

    Look into my web blog Business Electricity (ruralnerve54602444.pen.io)

    ReplyDelete

Silahkan berikan komentar.
(Pilih Profil Anonymos bila Anda tidak memiliki Blog)