Hidup itu bisa jadi tak semudah yang kita bayangkan, tetapi sering tidak sesulit yang kita kwatirkan..

Friday, September 26, 2008

DISIPLIN GEREJA

Salah satu hal yang berat tetapi harus di lakukan seorang gembala adalah: melaksanakan/menerapkan disiplin pada salah seorang anggotanya.Terutama dalam masyarakat timur seperti di Indonesia, hal ini jarang dilakukan.
Lebih banyak gembala yang bersikap “tidak mau tahu” atau “membiarkan saja” karena sungkan atau tidak enak hati. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena tidak Alkitabiah dan akibatnya dapat sangat buruk bahkan mungkin fatal bagi jemaat setempat (misalnya terjadi perpecahan jemaat).Alkitab sangat tegas dalam hal ini. Ada pedoman yang diberikan Kristus bagi kita sebagai gembala/pendeta suatu jemaat untuk melakukan disiplin gerejawi ini.
Kita juga akan mempelajari apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika ia medisiplin anggota jemaat yang hidup dalam dosa.Sebagai dasar dari disiplin gerejawi ini adalah Matius 18:15-19. Peraturan ini sebetulnya diberikan kepada setiap orang Kristen. Dalam ayat 15 dinyatakan dengan tegas salah satu tujuan disiplin gereja, yaitu untuk mendapatkan kembali saudara yang jatuh dalam dosa. Jadi motivasinya adalah mulia, yaitu Kasih, yang dinyatakan dengan keinginan bertobat dan kembalinya seorang berdosa.
Karena kasih kita pada seorang saudara, kita mendisiplinnya agar ia tidak terus hidup dalam dosa dan ia bertobat. Jadi kita mendapatkannya kembali. Motivasinya sama sekali bukan untuk meng-hukum, membalas dendam, membenci, melihat orang itu menderita, ataupun agar ia “kapok.” Ada tiga tahap yang harus dilaksanakan sebelum seseorang dikenakan disiplin:
TAHAP PERTAMA
Kita datang sendiri untuk menanyakan dan menegur saudara yang berbuat dosa itu. Sebagai seorang gembala, sering kita memperoleh laporan mengenai bermacam-macam perbuatan para anggota jemaat. Ada saat-saatnya kita hanya membawa suatu masalah kepada Allah dalam doa, tetapi kalu dianggap perlu, kita sebagai gembala rohaninya datang kepada saudara yang bersangkutan untuk menanyakan (karena belum pasti benar tidaknya laporan yang kita terima) kebenaran perbuatan itu. Kita tidak menuduhnya.Bila perbuatan itu benar dilakukannya dan saudara tersebut bertobat, maka ia diampuni Allah. Ini adalah baik. Kalau saudara ini menyangkalnya, kita harus belajar mempercayai kata-katanya sebagi mana diucapkannya (at face volue), bukan menduga-duga atau meencurigai kata-katanya meskipun “kelihatannya berbohong.” Kita juga tidak perlu mengirim penyidik-penyidik untuk men-cek kata-katanya. Bila saudara ini tetap melakukan dosa itu, beberapa saat kemudian akan tampak lagi akibatnya dan kita masuk tahap berikutnya.
TAHAP KEDUA
Bila dalam tahap pertama saudara itu mengakui perbuatannya tetapi ia tidak mau bertobat, maka menurut Kristus (ayat 16) kita harus membawa satu atau dua orang lagi untuk menegur/menasehati saudara itu. Sebaiknya yang kita bawa adalah seorang atau dua orang anggota majelis yang dapat menyimpan rahasia dan tidak usil mulut. Bila orang itu bertobat, ia diampuni Allah dan harus diampuni jemaat. Perkaranya harus diselesaikan pada waktu itu juga dan tidak perlu dibicarakan di antara anggota jemaat. Bila saudara itu tidak mau bertobat, ada dua atau tiga orang saksi yang mendengar pemberontakannya kepada Allah (dengan tidak mau bertobat dan akan melakukan dosa itu lagi).
TAHAP KETIGA
Bila teguran tahap kedua tidak berhasil, kita membawa saudara itu kepada jemaat (ay.17). Dalam hal ini tentunya kita tidak membeberkan dosa-dosanya yang bersifat pribadi kepada jemaat. Kita hanya membawanya dalam jemaat umum kalau menyangkut hal-hal yang sangat membahayakan atau merugikan jemaat, misalnya adanya pelajaran/guru sesat yang dapat memecah jemaat. Bila dosa itu bersifat pribadi dan tidak menyangkut/merugikan jemaat secara umum, tahap ketiga ini kita lakukan dengan mengundang saudara itu ke rapat majelis atau membawa beberapa anggota majelis lagi kepadanya untuk menegurnya. Kata “menegur” disini sekali lagi harus didasarkan pada motivasi kasih dengan lembut untuk menginsafkan dan mendapatkan orang itu kembali kepada anugerah Kristus.Bila setelah ketiga kesempatan itu dilaksanakan dan saudara itu tidak mau bertobat, disiplin gerejawi dijatuhkan padanya. Pedoman mengenai macam disiplin yang dapat dilaksanakan diberikan oleh Kristus, yaitu: ”...pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai,” atau singkatnya: sebagai seorang berdosa, kembali seperti sebelum ia mengenal Kristus.
BAGAIMANA KITA MEMPERLAKUKAN ORANG-ORANG BERDOSA
1. Kita tidak memberikan kepadanya jabatan/tugas gerejawi
Ia tidak boleh menjabat sebagai majelis gereja, pengajar, pengkhotbah, pemimpin pujian/koor dalam kebaktian, menjadi staf komisi anak, remaja, pemuda, wanita, pria, dewasa muda, mengajar di Sekolah Minggu, ataupun melakukan tugas-tugas gereja lainnya.Hal ini sangat penting untuk dilakukan. Pernah saya mendengar keluhan dari anggota-anggota gereja bahwa seorang yang mengaku terus terang sebagai seorang yang melakukan perbuatan homoseks dibiarkan mengetuai komisi pemuda. Dapat dibayangkan pengaruh sikap dan nilai-nilai serta pandangan hidupnya pada yang diasuhnya, terutama kalu ia mengajar anak-anak Sekolah Minggu.
2. Kita tidak memberikan kepadanya anugerah-anugerah Allah melalui sakramen
Sama seperti orang yang bukan Kristen tidak kita babtiskan atau kita undang dalam perjamuan kudus, kita juga tidak menawarkan sakramen-sakramen ini kepada orang yang terkena disiplin. Kita juga tidak memberkati pernikahan orang yang dikenakan disiplin gerejawi.3. Kita mengasihinyaDalam hal ini nyata sekali contoh yang telah diberikan Kristus ketika Dia duduk makan dan mengasihi orang berdosa (pemungut cukai, Matius 9:9-11) untuk menyelamatkan mereka. Jadi pada saudara yang berdosa itu kita limpahkan kasih Allah. Kita juga berdoa baginya, mengundangnya untuk menghadiri kebaktian, mendengarkan Firman Allah, bersekutu dan berbakti. Semua ini dilakukan agar ia diinsafkan Allah dan kembali kedalam keluarganya.
Kita tidak melarangnya ke gereja (tidak mau bersekutu dengannya), membencinya, mengutukinya ataupun meminta Allah mengutuknya.


No comments:

Post a Comment

Silahkan berikan komentar.
(Pilih Profil Anonymos bila Anda tidak memiliki Blog)