vascript'/>
"..Amazing Grace..": Kut'rima Janji Allah dari Kaum Yehuda

Selasa, Agustus 20, 2013

Rumus Terbaik: Harmoni

I Korintus 3:4
Karena jika seorang berkata, "Aku dari golongan Paulus dan yang lain berkata "Aku dari golong Apolos", bukankah itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

Pemirsa.... Beberapa hari yang lalu ada sebuah rencana protes yang membuncah di dadaku. Protes kepada Seksi Festival HUT 70 Tahun GPI.  Dalam notasi Lagu wajib yang disajikan panitia, saya menemukan satu notasi yang menurut yang SAYA TAU tidak tepat, karena mencolok nada dan posisinya.  Esok hari di Siantar dalam Rapat Panitia sudah saya rencanakan untuk aksi protes ini.

Tetapi untung saja belum terlanjur.  Sore tadi kami kedatangan pengajar V Group yang Oke Punya. Notasi yang saya anggap salah ini saya tanya kepada beliau.  Eh ternyata justru bagus bila not itu ada.  Justru itu sebuah peluang untuk menciptakan harmoni yang menarik yang mungkin saja kontingen yang lain tidak memahaminya.  Tinggal memanajemen suara yang ada dengan baik, menciptakan keseimbangan, maka hasilnya akan memanjakan telinga.

Kawan-kawans...Kita tidak bisa menafikan bahwa di dalam organisasi selalu ditemui perbedaan, dan tak jarang perbedaan ini menjadi bibit perselisihan.  Repotnya meski dalam organisasi pelayanan pun tak jarang timbul perselisihan yang cukup tajam yang berujung pada perpisahan, lebih parah lagi bukan hanya perpisahan tetapi permusuhan panjang yang berbuah kebencian antara satu dengan yang lain.

Salah satu persoalan yang mengemuka dewasa ini di dalam pelayanan adalah adanya munculnya perbedaan kepentingan dan kebutuhan yang diakibatkan oleh perbedaan generasi.  Ada generasi tua yang cenderung stagnan, kolot dan statis.  Di satu sisi muncul generasi muda yang cenederung dinamis, menggebu-gebu dan menginginkan perubahan cepat.  Hal ini tak jarang menimbulkan persoalan yang bisa berpengaruh
negatif terhadap kemajuan pelayanan.  Dua generasi berbeda ini masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Kelebihan Generasi Tua adalah biasanya tidak terburu-buru, bertindak dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang.  Generasi Muda juga punya keunggulan karena cenderung innovatif, kreatif, serta cekatan dalam bertindak.

Sebenarnya apa rumus terbaik untuk mengelola perbedaan ini dan memformasinya menjadi sebuah kekuatan?  Rumus yang terbaik adalah HARMONI.  Yaitu keseimbangan dan keselarasan potensi dan sumber daya yang ada.  Generasi Tua perlu membuka diri terhadap tuntutan generasi muda, Tetapi Generasi Muda perlu rem untuk menghormati Generasi Tua. Ingatlah ini, Generasi Tua yang membuka diri dan mengalah kepada generasi muda tidak akan mengurangi wibawa generasi tua, demikian juga sebaliknya.  Bila suatu waktu generasi muda megalah kepada generasi tua, dunia belumlah kiamat.  Perjalanan masih panjang, ruang dan waktu yang tidak sedikit masih terbuka di masa depan.

Dengan harmonilah kita bisa mempertahankan persekutuan kita.  Meletakkan perbedaan yang ada pasa tempatnya dan membentuk formasi yang kuat dari perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan.  Yang terlalu panjang dipendekkan, yang terlalu pendek dipanjangkan. Yang pintar sabar kepada yang tidak pintar, yang tidak pintar belajar dari yang pintar. Itulah harmoni sejati.

Tuhan Memberkati.

Haleluya..

Senin, Agustus 19, 2013

Jadi Penonton di Sorga??

Wahyu 4:4b

Dan dengan tidak henti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."

Wahyu 7:15
Karena itu mereka berdiri di hadapan tahta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya.  Dan Ia yang duduk di atas tahta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.

Permirsa.... Nanti pekerjaan kita di Sorga apa sih??  Hehe, pertanyaan ini sedikit aneh, menggelitik, mengejutkan tetapi bisa saja membuka mata dan pikiran kita.  Pernahkah kita mencoba mempelajari dan mencari tahu apa yang menjadi pekerjaan kita di Sorga?  Yang
jelas profesi seperti yang ada di dunia saat tidak akan ditemukan di Sorga.  Jangan berharap di Sorga anda bisa jadi toke kaca mata, sebab tidak ada yang butuh lensa maupun teropong di Sorga, hahaha.

Rekan-rekans, kedua petikan ayat di atas rasanya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kita.  Bahwa kelak tugas kita di Sorga adalah melayani Dia sang penebus kita, Tuhan Yesus Kristus siang dan malam dan itu akan berlaku sampai selama-lamanya.

Mengetahui dan mengingat tugas kita ini, saya jadi teringat kepada beberapa teman dan jemaat yang enggan turut melayani Tuhan di gereja atau persekutuan.  Mereka sepertinya punya prinsip bahwa cukuplah datang dengan tulus hati dan menikmati setiap ibadah yang diikiti, tanpa merasa perlu ikut terjun menjadi pelayan dalam sebuah ibadah.  Dalm arti hanya sebagai penikmat dan penonton saja tanpa melibatkan diri menjadi bagian dari para pelayan.  Beberapa orang kita dapati meskipun sudah puluhan tahun bergabung dengan sebuah persekutuan, tetapi kelihatannya enggan untuk turut ikut serta menjadi pelayan. Padahal, bagaimanapun keterlibatan seseorang sangatlah dibutukan untuk mendukung kemajuan pelayanan.


Nah...Jika kelak tugas kita adalah melayani Tuhan siang dan malam, mengapa tidak sedari kini kita mulai iktu melayani? Logika saya berkata, tidak mungkin nanti tiba-tiba anda jadi pelayan di Sorga sementara selama di dunia ini anda enggan melayani.  Enak aja lu....hahaha.  Siapa yang biasa melayani Tuhan di bumi, ya dia dong yang kelak akan jadi pelayan di Sorga.  Saya yakin itu.


Karena itu, bila rindu terlibat melayani Tuhan di Sorga kelak, marilah mulai sekarang kita terlibat dalam pelayanan di gereja kita, di persekutuan kampus, di jaringan doa atau komunitas apa pun.  Jangan puas hanya menonton, supaya di Sorga kelak kita pun tidak
hanya jadi penonton.

Tuhan Memberkati.

Haleluya.....

Minggu, Agustus 18, 2013

Telat beribadah, Anda kehilangan ini:

Mazmur 22:23

Aku akan memasyurkan nama-Mu  kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:

Pemirsa, dua tiga orang jemaat memberitahu saya bahwa alasan mereka sering terlambat adalah karena merasa bahwa yang terpenting dalam sebuah ibadah adalah Khotbah,
sedangkan pujian-pujian di awal ibadah bagi mereka hanyalah pemanasan saja sebelum sampai kepada inti ibadah yaitu mendengar Firman Tuhan atau Khotbah.  Benarkah dalil mereka ini?

Sabtu, Agustus 17, 2013

Dari kita untuk Negeri, Ini yang Tuhan mau

2 Tawarikh 7:14
dan umat-Ku, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka aku akan mendengar dari Sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka

MERDEKA....MERDEKA.... Sekali Merdeka, tetap Merdeka... Amin.

Pemirsa.....Beberapa orang telah saya dengar berkata bahwa sampai sekarang kita belum
bener-benar merdeka.  Pernyataan bernada skeptis ini tidak bisa saya salahkan.  Sebab mereka menguraikan bukti-bukti bahwa betapa bangsa ini belum bebas dari korupsi, dari mafia hukum, dari nerkoba.  Yang lain berkata sampai sekarang masih banyak penduduk yang belum mendapatkan penerangan listrik dan air bersih.  Itu sebabnya saya tidak bisa menyalahkan mereka, malah menerima bahwa apa yang mereka uraikan adalah benar adanya.

Jumat, Agustus 16, 2013

SERMON: Identitas Gereja Mula-mula. Mengapa Hilang??

Roma 10: 14:
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?  Bagainana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia.  Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya

Pemirsa.....hehe.  Saya suka menambahkan ayat di atas begini: Bagaimana mereka memberitakan tentang Dia kalau mereka TIDAK MENGERTI Firman tentang Dia???  Bahkan sering pula saya tambahkan: Bagaimana mereka MENGERTI kalau mereka tidakn belajar? Dan dimana mereka belajar kalau bukan dari Gereja?

Kamis, Agustus 15, 2013

Indahnya Keterbukaan..

I Kor 1:10:  Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir

Sebagai seorang pelayan di salah satu gereja, ada hal yang cukup lama saya pendam bahkan menjadi pergumulan dalam batin. Beberapa kali saya merindukan sharing atau cerita dan diskusi empat mata atau lebih dengan Pendeta pimpinan atau gembala sidang kami. Tetapi rencana ini selalu terpending. Penyebabnya adalah saya takut Bpk Pendeta ini marah, atau menolak atau menganggap tidak penting ataupun terlebih dahulu negatif thingking. Ketepatan Bpk Pendeta ini termasuk tipe orang yang tertutup dan kurang lihai berkomunikasi dan beramah tamah dengan jemaat dan Hamba Tuhan lainnya. Jadilah kerinduan dan harapan-harapan yang membuncah di dada tertahan.

Rabu, Agustus 14, 2013

Jangan Kebanyakan "saudara"

Pemirsa....hehe.  Kawan-kawan sekalian, setiap orang berharap datang ke gereja, bertemu dengan rekan-rekan se persekutuan, lalu sama-sama bernyani memuji Tuhan dan salah satu yang pasti ditunggu-tunggu (bila tak berlebihan mengatakan sebagai yang terpenting) adalah khotbah pada hari itu.


Menyadari bahwa Khotbah merupakan satu bagian yang sangat bahkan yang paling penting dalam ibadah, tentulah kita semestinya berpikir secara serius menyiapkan khotbah yang menarik.  Tak ubahnya melayani para penikmat kuliner di Rumah Makan.  Penyaji mestilah memperhatikansecara serius mulai dari bahan utama makanan, bumbu-bumbu pendukung dan tak kalah penting racikan serta metode penyajiannya.  Bila tidak, siap-siaplah pondok makan ditinggal sepi para pelanggan.

Kali ini kita mau sharing soal bahasa pengkhotbah. Sebagai penikmat dan sesekali penyaji khotbah, saya tak jarang memperhatikan secara detail pola bahasa, redaksional dari seorang pengkhotbah.  Karena penasaran dengan seorang pengkhotbah yang terlalu sering mengucapkan "saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan", suatu waktu saya mencoba "jahil" menghitung berapa kali si pengkhotbah mengucapkan kata-kata favoritnya tersebut.  Mengejutkan, hampir setengah dari seluruh redaksi khotbah beliau diisi oleh kata-kata favorit tersebut.  Termasuk saudara-saudara, saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Tuhan kita yang hidup, sudarkamatuhan, sudaku, saku, Sudakistus Yesus, saudaraku, dan lain-lain.

Kawan-kawan, kalau khotbah begini kita dengar sekali 5 tahun tentulah tidak akan menjengkelkan, tetapi bayangkan bila tiap minggu kita disuguhi dengan khotbah berkelas begitu.  Apa kata dunia?? 

Tidak disengaja???

Entahlah, ada orang yang berkata bahwa kebiasaan buruk ini bukanlah disegaja, atau bahkan beberapa pengkhotbah mungkin saja tidak menyadari atau sor sendiri bahwa dia telah terlalu boros memakai dua atau tiga jenis kata.  Karena itulah makanya penting bagi seorang pengkhotbah untuk mencoba bertanya kepada temannya, kepada isterinya atau kepada siapa saja yang bisa memberikan saran-saran yang konstruktif demi perbaikan khotbah di masa berikutnya.

Bukan apa-apa, akibat buruknya adalah:  Persekutuan kita bakal ditinggal sepi oleh para hadirin, hehe.

Haleluya...


Selamat Berkhotbah.,,,,,

Marsinggang ro tu JoloMu

Betapa Indahnya Lagu Pujian ini. Ayat pertama menjelaskan kepada kita bagaimana Tuhan tetap memelihara bahkan mencari kita. Dia menunggu kita dengan sabar sampai kita merespon kasih dan kebaikan-Nya dengan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Ayat kedua menjelaskan bagaimana manusia sering mengabaikan panggilan Tuhan. Kebanyakan dikarenakan kita mengutamakan kepentingan duniawi dibandingkan dengan menerima Kristus dalam hidup kita.

Frasa "didia ho...didia ho.." menungjukkan suatu kerinduan yang dalam dari yang memanggil kepada orang yang dipanggilnya. Itulah bukti betapa Tuhan tidak ingin melihat kita ciptaan-Nya hilang tertelan dunia sementara lupa dengan kehidupan setelah kematian. Padahal Tuhan menyediakan kehidupan kekal setelah kematian yaitu di Sorga yang kekal.

Ayat tiga membawa kita pada suatu komitmen untuk bertobat dan datang kembali kepada Tuhan. Suatu sikap merespon dan menerima Tuhan serta dengan berlutut datang menyembah kepada-Nya, mulai dari mengakui dosa-dosa dan kejahatan dan meninggalkan masa lalu. Ya...Bapa yang penuh kasih, aku datang dan menyadari bahwa aku adalah milik-Mu, aku datang menyembah engkau berlutut dihadapn-Mu dan merendahkan diri pertanda penyerahan total.

Berikut Redaksi Lengkap Lagu yang luar biasa dan berdampak ini. Oleh Pendeta Umum GPI, lagu ini disarankan sebagai lagu wajib Biro Pemuda pada Festival Pujian HUT GPI ke-70 di Sintar, September 2013 nanti.

Tontong sai diranapi Ho do au Tuhan
Manang tudia pe au lao ale amang
Tontong maima-ima rohaMi di au
Aut sadihari mulak rohakki tu Ho

Reff:
Didia ho, didia ho, dijouhon Ho do tu au na dangol on
Didia ho, didia ho, dijouhon Ho do tu au na dangol on

Jotjot so hutangihon jou-jouMi
Namanjou au asa jonok tu lambung-Mi
Jotjot so hutangihon jou-jouMi
Alani panarihokki di ngolukki

Reff: Didia ho....

Ro do nuaeng au tu lambungMu oh Tuhan..
Mangalusi hatam mandok didia ho
Ro do nuaeng au tu lambungMu oh Tuhan
Ai hataMi nalamboki so magopo

Reff:
Disondo au ale amang, ikkon marsinggang do au ro tu jolom
Disondo au ale amang, ikkon marsinggang do au ro tu jolom

Mau dengar langsung video lagunya, KIK DISINI

Tuhan Memberkati. HALELUYA

Senin, Mei 13, 2013

Pelayanan di Universitas Sari Mutiara

Dokumentasi Pelayanan Ibadah Kampus Universitas Sari Mutiara, Sabtu 11 Mei 2013

Iman-Pengharapan-Kasih

Tim Pelayan Altar


Pemimpin Pujian dan Penari
Khotbah, I Kor 13:13
Kasih
-> Yang terbesar dari semuanya.
-> Perbuatan kasih adalah peristiwa terbesar yang pernah ada dimuka bumi
-> Pengorbanan Nyawa untuk orang BERDOSA
-> Kasih itu aneh, makin dikeluarkan/dipraktekkan stoknya makin banyak

Pengharapan
-> Tidak Mengecewakan (Roma 5:5)
-> Ada imbalan dibalik pengorbanan kita selama pelayanan
-> Pengharapan akan berkat di bumi dan di Sorga kelak (I Tim 4:8)
-> Pengorbanan yang WONDERFULL (IIKor 11:23-27)

Iman
-> Imposible become possible
-> Meyakini yang belum terlihat, termasuk yang tidak mungkin
-> Abraham mempunyai iman yang "gila"

Solo Purnama Situmorang, Tingkat II
HALELUYA..