Roma 10: 14:
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagainana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya
Pemirsa.....hehe. Saya suka menambahkan ayat di atas begini: Bagaimana mereka memberitakan tentang Dia kalau mereka TIDAK MENGERTI Firman tentang Dia??? Bahkan sering pula saya tambahkan: Bagaimana mereka MENGERTI kalau mereka tidakn belajar? Dan dimana mereka belajar kalau bukan dari Gereja?
Ragam Informasi, Lagu Rohani, Renungan, Informasi Pelayanan, Opini dan berbagai informasinya lainnya.
Jumat, Agustus 16, 2013
Kamis, Agustus 15, 2013
Indahnya Keterbukaan..
I Kor 1:10: Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir
Sebagai seorang pelayan di salah satu gereja, ada hal yang cukup lama saya pendam bahkan menjadi pergumulan dalam batin. Beberapa kali saya merindukan sharing atau cerita dan diskusi empat mata atau lebih dengan Pendeta pimpinan atau gembala sidang kami. Tetapi rencana ini selalu terpending. Penyebabnya adalah saya takut Bpk Pendeta ini marah, atau menolak atau menganggap tidak penting ataupun terlebih dahulu negatif thingking. Ketepatan Bpk Pendeta ini termasuk tipe orang yang tertutup dan kurang lihai berkomunikasi dan beramah tamah dengan jemaat dan Hamba Tuhan lainnya. Jadilah kerinduan dan harapan-harapan yang membuncah di dada tertahan.
Sebagai seorang pelayan di salah satu gereja, ada hal yang cukup lama saya pendam bahkan menjadi pergumulan dalam batin. Beberapa kali saya merindukan sharing atau cerita dan diskusi empat mata atau lebih dengan Pendeta pimpinan atau gembala sidang kami. Tetapi rencana ini selalu terpending. Penyebabnya adalah saya takut Bpk Pendeta ini marah, atau menolak atau menganggap tidak penting ataupun terlebih dahulu negatif thingking. Ketepatan Bpk Pendeta ini termasuk tipe orang yang tertutup dan kurang lihai berkomunikasi dan beramah tamah dengan jemaat dan Hamba Tuhan lainnya. Jadilah kerinduan dan harapan-harapan yang membuncah di dada tertahan.
Rabu, Agustus 14, 2013
Jangan Kebanyakan "saudara"
Pemirsa....hehe. Kawan-kawan sekalian, setiap orang berharap datang ke gereja, bertemu dengan rekan-rekan se persekutuan, lalu sama-sama bernyani memuji Tuhan dan salah satu yang pasti ditunggu-tunggu (bila tak berlebihan mengatakan sebagai yang terpenting) adalah khotbah pada hari itu.
Menyadari bahwa Khotbah merupakan satu bagian yang sangat bahkan yang paling penting dalam ibadah, tentulah kita semestinya berpikir secara serius menyiapkan khotbah yang menarik. Tak ubahnya melayani para penikmat kuliner di Rumah Makan. Penyaji mestilah memperhatikansecara serius mulai dari bahan utama makanan, bumbu-bumbu pendukung dan tak kalah penting racikan serta metode penyajiannya. Bila tidak, siap-siaplah pondok makan ditinggal sepi para pelanggan.
Kali ini kita mau sharing soal bahasa pengkhotbah. Sebagai penikmat dan sesekali penyaji khotbah, saya tak jarang memperhatikan secara detail pola bahasa, redaksional dari seorang pengkhotbah. Karena penasaran dengan seorang pengkhotbah yang terlalu sering mengucapkan "saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan", suatu waktu saya mencoba "jahil" menghitung berapa kali si pengkhotbah mengucapkan kata-kata favoritnya tersebut. Mengejutkan, hampir setengah dari seluruh redaksi khotbah beliau diisi oleh kata-kata favorit tersebut. Termasuk saudara-saudara, saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Tuhan kita yang hidup, sudarkamatuhan, sudaku, saku, Sudakistus Yesus, saudaraku, dan lain-lain.
Kawan-kawan, kalau khotbah begini kita dengar sekali 5 tahun tentulah tidak akan menjengkelkan, tetapi bayangkan bila tiap minggu kita disuguhi dengan khotbah berkelas begitu. Apa kata dunia??
Tidak disengaja???
Entahlah, ada orang yang berkata bahwa kebiasaan buruk ini bukanlah disegaja, atau bahkan beberapa pengkhotbah mungkin saja tidak menyadari atau sor sendiri bahwa dia telah terlalu boros memakai dua atau tiga jenis kata. Karena itulah makanya penting bagi seorang pengkhotbah untuk mencoba bertanya kepada temannya, kepada isterinya atau kepada siapa saja yang bisa memberikan saran-saran yang konstruktif demi perbaikan khotbah di masa berikutnya.
Bukan apa-apa, akibat buruknya adalah: Persekutuan kita bakal ditinggal sepi oleh para hadirin, hehe.
Haleluya...
Selamat Berkhotbah.,,,,,
Langganan:
Postingan (Atom)
