vascript'/>
BB 2026 BT (Benar-Benar 2026 Bersama Tuhan)

Senin, September 30, 2013

The right seeds in the right Land

Mazmur 107:37

Mereka menabur di ladang-ladang dan membuat kebun-kebun anggur, yang mengeluarkan buah-buahan sebagai hasil.

Pemirsa, di awal minggu ini kita kembali ke menu "Belajar Berkhotbah".  Fokusnya adalah bagaimana supaya khotbah kita menjadi seuatu benih atau bibit yang ditabur di tanah yang
tepat. Bibit kacang tidak akan pernah tumbuh bila kita letak di atas batu kering.  Benih jagung tidak akan pernah tumbuh bila kita tabur didalam air. Itu berarti satu atau sekelompok benih atau bibit harus di tabur di tanah yang sesuai dengan jenis dan habitat bibit/benih.  Bila tidak? Kemungkinan pertama adalah dia tidak akan tumbuh, kemungkinan kedua tumbuh sebentar tetapi tak lama bertahan hidup.

Sabtu, September 28, 2013

Pengendalian Diri yang "Menyelamatkan"


I Petrus 4:7b
Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

Pemirsa, suatu waktu waktu teman saya mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepeda motor.  Kala itu menurut kisahnya, sebuah bus dengan kecepatan agak tinggi melaju
dari arah berlawanan. Melihat bus yang tiba-tiba muncul, kawan ini menjadi panik dan hilang kendali. Padahal sebenarnya masih ada sisa badan jalan dan seandainya dia tenang saja dan meneruskan perjalanan, hampir pasti tidak akan terjadi kecelakaan seperti ini, kisahnya.

Rekans, Ketika kita menghadapi tantangan hidup berupa persoalan, kesulitan, penderitaan atau punyakit kita sering hilang pengendalian diri. Kita sering tidak mampu mengendalikan hati dan pikiran kita.  Ketidakmampuan mengendalikan diri inilah yang membuat kita panik, gusar dan menjadi tidak tenang. Ingat, bila kita panik dan tidak tenang, hampir pasti kita tidak akan bisa dan tidak akan terpikir untuk berdoa. Benar bukan?

Seorang teman bernama Maylin Purba" dalam status facebooknya mengatakan begini:

"..Kesulitan itu seperti air keruh. Bersabarlah, jangan mengaduknya, karena sebentar lagi ia akan jernih..."

Saya setuju sekali dengan statement yang excellent ini. Sebuah persoalan hidup bila kita bumbui dengan kepanikan yang berlebihan, ketakutan yang berlebihan dan lalu mengambil
opsi-opsi penyelesaian yang membabi buta, maka persoalan itu sendiri tidak akan selesai melainkan akan semakin parah.  Itu sebabnya banyak orang sakit yang buru-buru pergi ke dukun atau kepada orang pintar dan bukannya terlebih dahulu berdoa dan meminta petunjuk serta mujizat Tuhan. Yang begini kita sudah tahu efeknya bukan? Bukannnya sembuh, mala si sakit menjadi terjerat benih-benih kuasa jahat yang membuat dia tidak berkenan kepada Tuhan.

Rasa khawatir, takut dan gelisah tentulah sesuatu hal yang lumrah saat kita mengalami persoalan hidup. Tidak ada yang bisa menyangkal itu, itu manusiawi dan masuk akal. Akan tetapi sebagai anak-anak Tuhan yang memiliki Bapa yang setia dan di dalam-Nya ada janji yang murni yang menyediakan pertolongan kepada kita setiap saat dan dalam persoalan apa pun, jangan kiranya dihantui oleh ketakutan dan kepanikan yang berlebihan. Tetapi mari kita tempatkan Tuhan sebagi opsi pertama dan yang utama untuk menjadi solution maker alias pembuat solusi dalam penyelesaian permasalahan yang kita hadapi.

Jadilah tenang, jangan panik berlebihan, tenangkan diri, kendalikan diri, hati dan pikiran
dan berlututlah di hadapan Tuhan. Persoalan kita hanyalah seperti air yang sedang keruh karena sedikit terguncang, sebentar lagi dia akan jernih kembali seperti sedia kala.

Oups, hampir lupa: Salah satu BUAH ROH adalah PENGEDALIAN DIRI, hehe

Tuhan Memberkati. HALELUYA


Jumat, September 27, 2013

Yang terpenting dari sebuah Ujian: NAIK KELAS

Mazmur 66:10

Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak.

Pemirsa.. Masihkah kita ingat semasa TK, Sekolah Dasar, SMU bahkan sampai kuliah saat-saat kita menghadapi ujian pelajaran? Ya, bila mau jujur ujian sekolah adalah sesuatu yang tidak terlalu kita inginkan, karena kemungkinan takut tidak mampu menjawap soal-soal atau
pertanyaan dan malu kepada guru dan teman. Lepas dari itu, sebenarnya apa maksud dan tujuan suatu ujian pelajaran dilakukan? Pertama adalah untuk mengtahui apakah pelajaran yang telah kita terima selama waktu tertentu telah kita mengerti dan pahami? Kedua dan yang terpenting adalah supaya kita lulus dan masuk ke kelas yang lebih tinggi dan baru alias naik kelas.

"....Tak ubahnya dengan pelajaran, bahwa ujian yang diijinkan atau dirancang Tuhan untuk kita adalah bertujuan untuk memurnikan kita dan cara Allah mempersiapkan kita memasuki suatu level rohani yang lebih kuat, lebih kokoh, tahan banting dan yang tak kalah penting untuk pantas menerima penggenapan berkat Tuhan yang lebih besar di waktu berikutnya. So, ujian itu adalah kesempatan kita untuk MOVING TO THE NEXT LEVEL..."

Akan adakah yang tidak lulus uji/tahan uji dalam iman? Sudah barang tentu. Sebagaimana orang yang tidak lulus ujian di sekolah maka kemungkina pertama adalah bahwa dia tidak naik kelas, kemungkinan kedua dia harus ujian ulang. Begitu juga dengan ujian rohani yang datangnya dari Tuhan. Orang-orang yang tidak peka akan maksud Tuhan yang menginjinkan
ujian, akan melihat ujian itu sendiri dari sudut pandang yang lain. Beberapa orang akan marah dan protes kepada Tuhan.  Biasanya orang yang begini menuduh Tuhan tidak adil. Karena mereka memandang ujian (yang identik dengan penderitaan) dari sudut pandang manusia, bukan dari sudut pandang Tuhan.

Rekans, bila suatu waktu kita merasakan suatu persoalan dan penderitaan sementara kita setia dan taat kepada Tuhan, mari kita melihat dari sudut pandang Tuhan dan serta merta meuduh Tuhan tidak adil.  Tetapi sebaliknya mari kita tetap tekun sebab ketekunan itu sendiri akan membuat kita tahan uji, dan tahan uji akan membuat kita menjadi orang-orang yang berpengharapan (Roma 5:4).  Ingatlah ini:  UJIAN HIDUP yang identik dengan penderitaan akan selalu berakhir dengan kebahagiaan

Tuhan Memberkati.. Haleluya...