Mission Started. Misi telah dimulai. Kiranya Tuhan Memberkati..

Tuesday, June 03, 2014

BAHASA LIDAH

Disadur dari Kumpulan Tulisan Rev DR MH Siburian, M.Min (Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia)

Doktrin ini adalah salah satu hal yang sangat fundamental di dalam ajaran Kristen.
  Walaupun doktrin ini banyak disangkal oleh mereka yang bukan dari kalangan Kristen, tetapi sampai sekarang hal doktrin ini tetap menjadi suatu hal yang sangat terpenting bagi umat Kristen.  Penyangkalan terhadap doktrin ini adalah juga penyangkalan terhadap existensi yang sebenarnya dari Allah kita.  Untuk itulah dipikir perlu, di dalam penataran kali ini, membahasnya, walaupun hanya garis-garis besarnya saja.
Sesuatu yang tidak terbatas, memang tidak mungkin dapat diketahui dengan sempurna oleh sesuatu yang terbatas
Allah adalah tidak terbatas sedang manusia itu sungguh-sungguh sangat terbatas.  Maka di dalam kita berbicara mengenai Tritunggal ini kita ada kesempatan ini kami  ingin menyentuh tentang Doktrin Gereja kita berhubungan dengan Bahasa Lidah (speak in tongue). Sebenarnya Doktrin ini adalah jelas dan Alkitabiah namun karena banyaknya sekarang Aliran Gereja yang membuat tafsirannya tentang Doktrin ini dan ini membingungkan sebahagian anggota Jemaat Gereja kita.
Dikalangan Gereja Aliran Roh Kudus, akhir-akkhir ini banyak yang telah dipengaruhi oleh aliran yang tidak percaya    tentang bahasa lidah ini sehingga kita sebagai Gereja tidak akan begitu saja menerima mereka sebagai Aliran Pentakosta tanpa mengetahui kemurnian ajaran mereka tentang pokok doktrin ini.
Bahasa Lidah adalah suatu pengalaman yang diperoleh setelah adanya Baptisan Roh Kudus. Bahasa Lidah bukanlah sesuatu hal yang dengan mudah diterangkan sebagaimana kita menerangkan kotak 4 segi: panjang, lebar, tingginya olehmana kita mengetahui luas atau isinya.
Kita akan melihat bahasa lidah ini dalam konteks setelah Kejadian Hari Pentakosta, hari yang menandai kejadian Babtisan Roh Kudus yang diikuti dengan Bahasa Lidah atau Bahasa  Baharu bagi murid-murid. Suatu kejadian yang dialami oleh para percaya di Gereja mula mula. Dan kalau kita telusuri sepanjang sejarah Gereja Perjanjian Baru (Kisah Rasul) bahsa Lidah ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Gereja walaupun di beberapa tempat seperti di jemaat Korintus ada masalah pemakaian Bahasa Lidah yang kurang tepat. Hal ini menurut pengalaman kami masih juga terjadi di dalam Gereja zaman sekarang.
Namun masalah yang terjadi dalam jemaat Korintus tidak menjadi dasar untuk membatalkan Bahasa Lidah dari kehidupan Gereja. Ini adalah dosa besar, apa yang telah ditetapkan oleh Allah tidak dengan mudah kita tiadakan karena masalah like or dislike.  Alkitab adalah Alkitab dan Firman Tuhan harus diterangkan oleh Firaman Tuhan bukan dengan tafsiran logika saja.

I.    Pengertian Bahasa Roh Kudus
Kita menggunakan Terminologi Babtisan Roh Kudus karena istilah inilah yang lazim digunakan. Memang kita menemukan istilah lain seperti: dipenuhi dengan, turun atas atau turunlah, semuanya menunjukkan kepada kita kejadian dan pengalaman yang sama. Dengan demikian kita akan menggunakan istilah babtisan untuk selanjutnya.
Periksa ayat-ayat berikut ini:
Kis 1:5; Kis 1:8; Kis 2:4; Kis 2:17; Kis 2:18; Kis 2:33; Kis 4:31; Kis 8:15; Kis 8:16; Kis 8:17; Kis 9:17; Kis 10:38; Kis 10:44; Kis 11:15; Kis 13:52; Kis 15:8; Kis 19:2; Kis 19:6; Roma 5:5; Roma 8:15; I Kor 2:12; II Kor 5:5; Gal 3:2; Gal 4:6; Efesus 1:13.
            Dari ayat-ayat tersebut di atas dapat diketahui bahwa Babtisan Roh Kudus adalah suatu kejadian yang biasa dalam pengalaman Gereja mula-mula.

A.    Babtisan Roh Kudus adalah Pengalaman Setelah Keselamatan
Ada orang yang menyatakan bahwa ia sudah menerima Babtisan Roh seketika ia percaya. Ini tidak tepat. Kita harus dapat membedakan pekerjaan Roh Kudus dengan Babtisan Roh Kudus. Keselamatan adalah pekerjaan Roh Kudus, proses diterimanya Injil oleh seseorang adalah Pekerjaan Roh Kudus. Kita menjadi selamat bukan karena kemampuan kita sendiri, tetapi karena Roh Kudus.
Titus 3:5; II Tesalonika 2:13 à  keselamatan berhubungan ketat dengan  Roh  Kudus  yang  bekerja sehingga kita percaya terhadap  Injil  dan  kita  bertobat  untuk  mempercayai  Yesus. Firman  Tuhan  berkata: “Yesus adalah Tuhan” selain oleh Roh Kudus (I Korintus 12:3).
Tetapi pertobatan adalah satu hal dan Babtisan Roh Kudus adalah satu hal  yang lain. Satu kejadian yaitu pertobatan adalah lebih dulu dan Babtisan Roh Kudus adalah kemudian.  Babtisan Roh Kudus tidak pernah dialami seseorang sebelum dia mengalami keselamatan. Babtisan Roh Kudus adalah bagi mereka yang percaya saja.
Kita  percaya  bahwa  murid - murid  sudah  diselamatkan karena mereka sudah percaya kepada Yesus, namun Yesus menintahkan  kepada  mereka  supaya  mereka menunggu  Babtisan  Roh Kudus: “tetapi tidak lama lagi kamu akan dibabtis dengan Roh Kudus (Kis 1:5b).”
Satu ketika kira-kira 19 tahun setelah kejadian Pentakosta Paulus pergi ke jemaat Efesus bertemu dengan orang percaya di sana. Namun heran, orang-orang di sana   tidak pernah mengalami kejadian Babtisan Roh Kudus lalu Paulus menerangkan kepada mereka tentang Roh Kudus dan Paulus berdoa serta menumpangkan tangan atas mereka lalu Roh Kudus turun ke atas mereka dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa Roh dan bernubuat.
Babtisan Roh Kudus tidak terjadi atau  dialami bersama-sama dengan pertobatan. Babtisan Roh Kudus sebelum Babtisan Air adalah dimungkinkan dalam Alkitab sebagaimana terjadi kepada keluarga Kornelius, tetapi bukan pada saat bertobat dan bukan pula pada  sebelum bertobat. Kejadian pertobatan adalah satu proses dan kejadian Babtisan Roh Kudus adalah proses yang lain, yang mengikuti pertobatan.

B. Babtisan Roh Kudus dan Permohonan Untuk Dibabtis
            Babtisan Roh Kudus bukanlah kejadian otomatis, tetapi lebih kurang sebagai pengalaman yang dimohonkan/didoakan agar Tuhan mencurahkan RohNya. Kita dapat tahu bahwa murid Yesus tidak hanya 120 orang, tetapi pada hari Pentakosta yang dibabtis hanya 120 orang yang setia berdoa selama 10 hari di Yerusalem. Alkitab tidak mencatat Babtisan Roh Kudus terjadi kepada orang percaya yang lainnya. Dan ternyata kemudian daripada itu banyak orang percaya mengalami Babtisan Roh Kudus setelah para Rasul berdoa atau menumpangkan tangan (Kis 8:14-17).
            Pendapat yang mengatakan bahwa Pencurahan Roh Kudus dengan kata lain sudah cukup sekali, yaitu pada Hari Pentakosta dan kejadian yang sekali itu menandai Babtisan Roh Kudus untuk semua orang percaya  sampai sekarang, hal ini tidak benar dan tidak Alkitabiah. Janji Tuhan untuk membabtis orang percaya bukanlah hanya kepada 120 orang di Yerusalem.  Kita dapat tahu bahwa murid Yesus buka hanya 120 orang saja , tetapi pada hari Pentakosta yang dibabtis hanya mereka 120 orang yang setia berdoa selama 10 hari di Yerusalem. Alkitab tidak mencatat Babtisan Roh Kudus terjadi kepada orang percayaa lainnya dan ternyata kemudian daripada itu banyak orang percaya mengalami Babtisan   Roh Kudus setelah Para Rasul berdoa atau menompangkan tangan (Kis 8: 14-17).
Namun Alkitab mencatat juga bahwa Roh Kudus dicurahkan kepada mereka yang percaya ketika mereka mendengar tentang iman dan keselamatan kepada semua orang yang percaya bahkan kepada orang yang akan percaya. Sebagaimana Petrus berkata: “sebab bagi kamulah  janji  itu  dan  bagi  anak - anakmu  dan  bagi  orang  yang  masih jauh,  yaitu  sebanyak  yang  akan  dipanggil  oleh  Tuhan  Allah  kita (Kis 2:39).”
Roh  Kudus  akan  dibabtiskan  kepada  mereka  yang  percaya  apabila kita dalam proses memohon atau meminta kepadaNya. Maksudnya  bahwa  Babtisan  Roh  Kudus  tidak  otomatis  sudah dberikan  ketika  kita  bertobat. Dari  ayat - ayat yang kita telusuri di  dalam  Perjanjian  Baru, para  Rasul  menekankan  pentingnya  Babtisan  Roh ini kepada jemaat. Mereka berdoa, menumpangkan  tangan dan memohon agar Tuhan membabtis Roh Kudus kepada jemaat (Kis 10).
Kemanapun Rasul pergi mengunjungi jemaat maka perkara yang mereka  ingin tahu adalah: “apakah kamu sudah menerima Roh Kudus ketika kamu percaya (Kis 19)? Sebab banyak    dari antara orang percaya pada waktu itu belum dibabtis dengan Roh Kudus dan bahkan ada yang belum pernah mendengar akan hal itu sama sekali. Dan untuk itu Para Rasul berdoa dan menompangkan tangannya agar mereka dibabtis dengan Roh Kudus. Dengan itu Alkitab memberikan kenyataan kepada kita bahwa kewajibanlah setiap orang percaya menerima Babtisan Roh Kudus.

C.  Ketika kamu percaya
Perkataan tersebut di atas telah menjadi senjata orang yang hendak menyangkal Babtisan Roh Kudus. Dengan mencoba meniadakan seluruh fakta Alkitab tentang Babtisan Roh Kudus dengan satu perkataan tersebut. Perkataan itu diambil dari suratan Rasul paulus kepada jemaat Efesus  (Efesus 1:13-14)à Di dalam Dia kamu juga à karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu à Di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya dimateraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikanNya itu.  Lalu dari perkataan “ketika kamu percaya” à dimateraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu “timbullah ajaran yang menyangkal seluruh Kejadian babtisan Roh Kudus yang tercatat di dalam Alkitab dengan mengatakan bahwa Rasul Paulus sendiri menyatakan bahwa kita percaya kita   sudah  dimateraikan dengan Roh Kudus.
Mari dengan hati-hati kita perhatikan maksud dan tujuan dari ayat-ayat tersebut. Pada zaman tersebut (pada zaman Rasul) ada kebiasaan pemilik sesuatu benda seperti kendi, buli-buli atau bejana, mensah atau menstempel barang tersebut, ketika masih lembek (sebab kebanyakan terbuat dari tanah liat) sebelum dikeraskan atau dibakar (dimasukkan dalam perapian). Dan stempel itulah yang menjadi pemilik dari barang tersebut  yang pada zaman kita ini  pun masih dipraktekkan yaitu adanya trademark  di setiap produk.
Dengan cara yang sama Kristus berjanji akan mencurahkan RohNya kepada murid-muridNya yang sudah percaya jauh sebelum hari Pentakosta sebagai materai atau cap pemilikan agar para murid ini memiliki kuasa pelayanan (Kis 1:8) untuk dapat menjadi saksi yang efektip (Luk 24:49).
Sebelumnya kita telah menyinggung bahwa kira-kira 20 tahun setelah Hari Pentakosta Paulus mengunjungi jemaat Efesus kemana kemudian dia menulis surat Efesus ini. Pada kesempatan itu dia bertanya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu percaya?” maka jawab jemaat “belum” (Kis 19:1-7) dan Rasul Paulus menompangkan tangannya kepada mereka dan kumpulan itu (berjumlah 12 orang) maka dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulailah mereka berkata-kata dalam Bahasa Roh dan bernubuat.
Beberapa tahun kemudian Paulus menulis   Surat kepada jemaat ini (Efesus) dan isi suratnya adalah salah satu yang kita baca tadi (Efesus 1:13-14). Berobahkah Paulus sehingga dia membuat kontadiksi atas apa yang dialami dan diajrkan oleh dia sendiri kepada jemaat Efesus ini beberapa tahun yang lalu? Apakah Paulus bermaksud:  kalau dulu jemaat Efesus perlu menerima Roh Kudus setelah mereka percaya (Kis 19:1-7) dan sekarang Paulus mencoba menerangkan bahwa jemaat Efesus  sudah  menerima  Roh  Kudus  pada  saat mereka percaya? Jelas sekali Paulus tidak bermaksud demikian dengan suratnya ini (Efesus 1:13-14). Justru Paulus ingin menekankan kembali apa yang telah dialami oleh Jemaat Efesus yang dulu, yakni bahwa setelah mereka percaya mereka harus dimateraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikanNya itu. Tentu dari 12 orang yang ada di dalam Kisah 19 ada diantara jemaat yang hadir mendengarkan surat Paulus ini.
Apabila kita bandingkan perkataan: “ketika kamu percaya” di dalam Efesus 1:13-14 tadi dengan naskah aslinya ataupun terjemahan bahasa Inggris yang disalin dari naskah aslinya sebenarnya kata “ketika” di sini bukan berarti “pada saat” atau percaya dan dibabtis Roh Kudus adalah sekaligus satu pengalaman. Dalam bahasa Inggris terjemahannya After that ye believed,  yang terjemahan harafiahnya: setelah kamu percaya.  Dan ini sesuai dengan apa yang dialami oleh Paulus sendiri dan jemaat Efesus juga. Jemaat Efesus juga tentu mengingat bagaimana Paulus menginstruksikan agar mereka dibabtis dengan air lalu Paulus menopangkan tangan ke atas mereka dan mereka dipenuhi dengan Roh  Kudus  dan berbahasa lidah serta bernubuat.
Babtisan Roh Kudus (yang dijanjikan) itulah menjadi materai penyelamatan bagi kita (Efesus 4:30) sampai Yesus Maranatha datang. Dalam II Korintus 1:21-22 Paulus menyatakan Roh Kudus yang diberikan itu adalah jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita. Jadi sekali lagi ajaran Doktrin  yang menyatakan bahwa kita telah dibabtis Roh Kudus pada saat kita percaya tidaklah Alkitabiah dan itu tidak dianut oleh Gereja Pentakosta Indonesia dan Gereja Perjanjian Baru pun tidak menganut faham yang demikian.
Sebagai bukti mari kita telusuri secara singkat  urutan Sejarah Perjanjian Baru. Para Rasul atau Murid-Murid yang suudah percaya kepada Yesus, harus menunggu Babtisan Roh Kudus di Yerusalem dan mereka mengalaminya .  Kemudian   jemaat Samaria yang sudah percaya, tetapi belum menerima Babtisan Roh Kudus, harus pula menerima Babtisan Roh Kudus, Kornelius dengan seisi rumahnya kemudian kira-kira 20 tahun   setelah hari Pentakosta, jemaat Efesus harus pula mengalami Babtisan Roh Kudus ini.
Maka pengertian yang sebenarnya dari Efesus 1:13-14 tadi adalah bahwa kita sesudah percaya (after that ye believed atau Pistrusantes) kita menerima pensahan atau pematerian sebagai milik Kristus sampai Dia datang melalui Babtisan Roh Kudus yang dijanjikan itu (Kisah Rasul 1:5).

Tuhan Memberkati.  Haleluya


No comments:

Post a Comment

Silahkan berikan komentar.
(Pilih Profil Anonymos bila Anda tidak memiliki Blog)