Hidup itu bisa jadi tak semudah yang kita bayangkan, tetapi sering tidak sesulit yang kita kwatirkan..

Thursday, October 10, 2013

Bunyi Alarm kian Nyaring, Jangan Abaikan...

I Kor 6:19

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah 
bait  Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 

Pemirsa, salam sejuk dari Brastagi...

Saya baru saja tiba di kota dingin, subur dan indah ini. Berkunjung ke rumah Keluarga yang oleh mana kepala keluarga (lae saya) baru dipanggil Tuhan beberapa minggu lalu. Almarhum meninggalkan satu isteri dan dua anak yang masih kecil. Kasihan kedua bocah yang tidak bisa menolak takdir, mesti ditinggal ayah di masa kanak-kanak. Dari cerita inang bao (istri lae) ini didapati kesimpulan bahwa meninggalnya lae ini di usia muda (belum menyentuh angka 40 tahun) adalah karena gaya makan yang buruk, termasuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.

Rekans, oleh para praktisi dan pengamat kesehatan sudah sering sekali kita diingatkan supaya menjaga pola makan yang sehat. Tetapi entah kenapa sering sekali kita abaikan. Kalau mau jujur saya juga termasuk sering mengabaikan pesan berharga ini. Khususnya pola makan tidak teratur, hehe.

Saat ini juga ibu saya sedang menangis, karena sedang terbayang paramannya yang harus pergi selamanya tanpa sempat dihadiri pemakamannya. Kadang kita baru disadarkan ketika orang-orang yang kita kasihi harus meregang nyawa oleh karena tidak memperhatikan kesehatan tubuh. Berapa orang yang hidupnya harus berakhir karena darah tinggi, karena tipus, karena angin duduk, karena kelebihan berat badan, karena rokok, karena minuman keras, karena tuak dan lain-lain.

Akhhh, kalau begitu.. Mari teman-teman. Kita coba mulai disiplin menjaga kesehatan tubuh kita. Mulai dari pola makan yang teratur, selanjutnya menghindari makanan-makanan yang kurang sehat, minuman yang berdampak negatif, rokok dan apa pun itu yang tidak bermanfaat baik bagi kita.

Oya, JANGAN LUPA, bahwa bila kita harus terbaring sakit atau pergi selamanya ternyata yang paling rugi bukan hanya kita tetapi anak kita, istri kita, suami kita, keluarga. Apalagi bila kita adalah orang yang sebelumnya sangat diandalkan dalam keluarga. Seperti almarhum lae saya ini, anak-anaknya yang masih bocah harus menerima kenyataan tidak akan melihat ayahnya lagi untuk selamanya. Kasihan bukan?

Eitss, ini lebih penting lagi. Bahwa tubuh kita yang sering kita abaikan ini sebenarnya bukan milik kita tetapi milik Tuhan. Baca tuh ayat di atas. Sungguh tubuh kita adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga.

Mending bila kita harus terpaksa tidak teratur pola makan oleh karena melayani, atau pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Tetapi bila oleh karena malas, karena nafsu yang tidak bisa dikendalikan atau oleh karena ikut-ikutan dengan, betapa malangnya nasib kita. Harus menderita oleh karena kebodohan. Kalau sudah begini kita sudah wajar diberi label. Bukan B1 apalagi B2, melainkan B3 alias Benar-Benar Bodoh.

Baiklkah teman... Alarm sebagai warning bagi kita untuk menjaga kesehatan makin sering berbunyi, pun kian lama kian nyaring. JANGAN ABAIKAN...

Dari Brastagi kukabarkan, hehe

HAleluya!!


Wednesday, October 09, 2013

Karena Stok Apinya Masih Banyak...

Kisah 1:8

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamuakan menjadi saksi-Ku   di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria  dan sampai ke ujung bumi. "

PEMIRSA..., berkesempatan bertemu dan sharing dengan tokoh-tokoh atau pengurus pusat gereja adalah sebuah keuntungan bagiku. Sebab banyak cerita inspiratif dan pengajaran baharu yang boleh saya dapatkan. Baik itu berupa cerita sejarah, pengalaman-pengalaman bahkan kepada hal-hal yang lucu.

Suatu waktu di Jakarta saya ikut dalam pertemuan ngopi sore beberapa pengurus pusat GPI. Karena pertemuan ini santai maka cerita-cerita ringan dan santailah yang muncul. Salah satunya menyangkut dengan seringnya muncul perselisihan dan pertengkaran sesama hama Tuhan dewasa ini, dan hal ini menyebabkan urapan dalam pelayanan menjadi berkurang. Salah seorang berkata begini: Sebanarnya pendahulu-pendahulu kita juga tak kalah sering bertengkar, berselisih dan saling "serang". Malah sering dalam perjalanan menuju KKR mereka berselisih dan bertengkar di jalan. Tapi tiba di Lapangan KKR, mujizat tetap banyak terjadi, orang sakit disembuhkan dan setan-setan diusir.

Mengapa bisa begitu? Karena persediaan api (Api Roh Kudus masih banyak dalam diri mereka). Jadi kalau pun bertengkar dan berselisih, kuasa Roh Kudus dalam diri mereka masih banyak tersisa, sehingga mujizat tetap terjadi, hahahaha.  Beda dengan sekarang, rajin berselisih, cari nama, cari uang, cari jabatan tetapi api Roh Kudus sudah tidak ada lagi, makanya jarang ada mujizat, hahaha.

Rekans, dari cerita empiris berbalut homur ini, saya mendapat paling tidak dua kesimpulan penting bagi kita. Pertama bahwa tidak ada diantara kita yang tidak luput dari dosa yang bisa menjauhkan diri kita dari hadapan Tuhan. Termasuk hamba-hamba Tuhan sekalipun. 

Dan yang kedua adalah pentingnya kita terus menerus membangun mezbah doa kita menuju Sorga, supaya kuasa dan urapan roh Kudus yang dijanjikannya dan diberi gratis itu tetap ada dan terasa dalam kehidupan sehari-hari kita terutama dalam pelayanan. Terutama ketika kita melakukan perbuatan dosa, maka hal pertama dan terpenting kita lakukan kepada Tuhan adalah menyadari dosa itu sendiri, memohon ampun dan meminta kepada Tuhan supaya Roh-Nya dan kuasa-Nya tidak undur dari kita.

Jaga, pelihara, perbanyak stok dan nyalakan terus Api Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Sebab bila apinya tidak ada lagi, maka jadi apes. hehe

Haleluya.


Tuesday, October 08, 2013

Pentingnya Update Status...

Kolose 3:10

"...dan telah mengenakan manusia baru  yang terus-menerus diperbaharui  untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya..."

Pemirsa, suatu waktu saya bersama teman rombongan pelayanan melakukan kunjungan ke salah satu gereja yang agak jauh dari tempat tenggal alias kost. Kami sepakat untuk berangkat dari tempat masing-masing dan bertemu ditempat yang dituju, semuanya
mengendarai sepeda motor. Eh ternyata saat semua sudah on the way, oleh ketua rombongan dikabari via sms dan telepon bahwa kunjungan tidak jadi karena mereka yang akan dikunjungi ada urusan mendadak.

Tetapi beberapa diantara kami termasuk saya tidak menghiraukan sms dan telepon yang masuk ke handphone meski saya sebenarnya merasakan getaran dan nada handphone berbunyi. Jadilah beberapa diantara kami terus berpacu dengan sepeda motor hingga tiba di tempat yang dituju tetapi orang yang dikunjungi tidak ada ditempat, sedangkan beberapa teman yang sudah janji juga tidak muncul. Dengan sedikit perasaan kesal, saya membuka handphone dan ternyata.... Sudah dikabari, di sms dan ditelepon bahwa kunjungan dibatalkan. Jadilah waktu, tenaga dan bensin terbuang.

Seandainya saat merasakan getaran dan bunyi hand phone saya langsung berhenti sejenak dan lalu buka atau angkat telepon, ceritanya akan berbeda dan tidak se "tragis" ini, haha.

Rekans, gereja, pelayanan dan karya Roh Kudus untuk gerejanya bersifat dinamis dan tidak statis. Hidup, roh hati dan jiwa kita pun diharapkan Tuhan untuk senantiasa ter update dan dibaharui dari sehari ke sehari seperti kata Firman Tuhan. Seiring waktu berjalan, kerohanian kita mestilah semakin matang, dewasa dan kuat. Kerangka berpikir kita pus mestinya makin luas seiring dengan pengalaman yang terus di asah.

Kita tidak perlu anti kepada perubahan-perubahan yang sifatnya konstruktif. Hal ini berlaku di segala segmen hidup, pada umumnya waktu senantiasa memunculkan penemuan-penemuan, sistem-sistem, pola kerja dan prinsip-prinsip yang baru. Ada yang positif dan ada negatif.

Tak ketinggalan dalam hal kerohanian dan termasuk dalam penatalayanan gerejawi. Bila kita tidak peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi maka kita akan ketinggalan kapal. Saya percaya dalam setiap periode waktu, Tuhan menyiapkan hal-hal baru bagi kemajuan gereja-Nya di bumi. Ada hal-hal baru yang tersingkap oleh Roh Kudus kepada hamba-hamba dan nabi-nabiNya yang bertujuan untuk semakin menyempurnakan gereja-Nya sehingga kelak siap menjadi mempelai wanita-Nya dalam pesta perkawinan Anak Domba.

Jadi kita harus update karakter kita
Jadi kita harus update kapasitas kita
Jadi kita harus update hati, pikiran, roh dan jiwa kita
Jadi kita harus update manajemen diri kita
Jadi kita harus update manajemen gereja kita
Jadi kita harus update pola berpikir kita

dan yang paling penting Up Date "api Roh Kudus" yang telah dicurahkan kepada kita.

Haleluya!!


Monday, October 07, 2013

Firmannya yang keras atau suaranya? hehe

Amsal 10:31

"....Mulut orang benar mengeluarkan hikmat..."

Pemirsa, sepeti biasa di awal minggu kita kembali ke menu "Belajar Berkhotbah".  Seorang pengkhotbah yang luar biasa berkata bahwa: Khotbah kita nenentukan nasib kita.  Hal ini saya terima sebagai sesuatu yang benar dan masuk akal. Kalau khotbah tak "berkelas",
dampaknya pun akan tinggal kelas. Salah satu yang turut menentukan baik tidaknya sebuah khotbah adalah temperamen si pengkhotbah. Temperamen seorang pengkhotbah bisa dilihat dari penguasaan diri saat berkhotbah terutama dari keras lembutnya suara yang dikumandangkan. Bila rekans telah berpengalaman berkhotbah atau mengetahui "hukum-hukum" Homeletika, tentulah mengetahui bahwa penguasaan keras dan lembut suara sangat perlu diperhatikan.

Rekans, beberapa orang jemaat telah berkeluh kesah karena tak tahan mendengar suara Pendetanya saat berkhotbah yang sering sekali berkoar-koar dan membuat kuping jadi panas karena kerasnya suara dari mimbar saat berkhotbah, sebab membuat microfon mengeluarkan suara yang melengking. Memang degan suara begini si tukang ngantuk bakal bangun dari tidurnya, hahaha.  Katanya si pengkhotbah selalu mengklaim bahwa sangat perlu menyampaikan Firman dengan keras supaya mengena di hati jemaat.

Masalahnya adalah bukan Firman Tuhannya yang keras melainkan suara si pengkhotbah ditambah muka memerah dan mimik emosional membuat pendengar jadi ketakutan.  Saya sendiri menemukan beberapa pengkhotbah yang menyampaikan Firman Tuhan yang keras, tajan, menusuk dan "mengahajar" para jemaat tetapi disampaikan dengan lembut dan terkesan penuh kasih. Biar bagaimanapun Firman Tuhan yang keras, tidak harus disampaikan dengan muka dan suara yang keras.

Pengkhotbah mestinya belajar Homeletika, mengeluarkan suara sesuai dengan kebutuhan, kapasitas gedung harus diperhatikan, volume microfon tidak boleh lepas dari perhatian. Beda suara saat khotbah di KKR, beda saat ibadah biasa.  Beda suara saat khotbah di lapangan terbuka dengan kapasitas 10 000 orang, beda pula kebutuhan suara di dalam gedung dengan kapasitas 100 orang.

Jangan cari-cari alasan dengan mangatakan bahwa itu dorongan roh Kudus, sikit-sikit dorongan roh Kudus sehingga tidak bisa ditahan.  Bah emang kalau disertai roh Kudus jadi ga sadar diri, sehingga tidak bisa dikendalikan? hehe.

Mari berkhotbah penuh kasih, dibalut kelembutan hati dan ciptakan suasana yang adem saat penyampaian Khotbah, supaya jemaat diberkati dan banyak salam berkat, hahahahaleluyah..

Tuhan Memberkati...