Hidup itu bisa jadi tak semudah yang kita bayangkan, tetapi sering tidak sesulit yang kita kwatirkan..

Friday, August 23, 2013

MEMANG, Tuhan sering nge-Test kita,,,

Keluaran 13:17,21
17. Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir
21. TUHAN berjalan di depan i  mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.

Pemirsa.... Siapa yang tidak jengkel bila suatu urusan bisa cepat tapi ada oknum yang dengan sengaja memperlambat?

Suatu waktu saya harus berurusan dengan salah satu Bank BUMN di Indonesia. Hari ini kita diberitahu syarat-syarat untuk mengurus sesuatu. Setelah dipenuhi dan datang kembali besoknya, diberitahu lagi bahwa ada syarat tambahan yang tidak mudah untuk diselesaikan dalam sehari sementara dateline adalah hari itu sendiri.  Tentulah ini sangat menjengkelkan bukan?  Dan terpaksalah daku marah semarah-marahnya.  Sebab cara ini jelas menimbulkan kerugian besar bagi saya.

Tapi kawan-kawan.. ternyata Tuhan juga sering atau minimal pernah "mengerjai" kita. Mengerjai dalam tanda kutip ya kawan-kawan.  Coba kita simak aya di atas.  Sudah jelas-
jelas ada jalur cepat bagi Israel untuk menghemat waktu perjalanan menuju Kanaan.  Tetapi lihatlah, Tuhan malah menuntun mereka dari jalan yang lain yang justru lebih jauh, melelahkan dan bikin emosi. kwkwkw.  Pantas saja sebagain orang Israel mengamuk dan nyaris mendemo Musa sang pemimpin.
"....Jadi ternyata bukan manusia saja yang suka memperpanjang urusan, tetapi Tuhan juga. BEDANYA ADALAH, Manusia cenderung bertujuan negatif sedang maksud Tuhan adalah DEMI KEBAIKAN.  Jelas sekali maksud Tuhan dalam ayat di atas adalah untuk mengubah mental orang-orang Israel menjadi orang-orang yang tahan uji menghadapi perjalanan panjang dan menghadapi persoalan.  Mengubah mereka dari mental BUDAK (sebagaimana selama di Mesir) menjadi mental PEJUANG, mental PEMENANG.  Itulah tujuan Tuhan sehingga kadang-kadang Tuhan menguji mereka dan membawa mereka melewat jalan-jalan yang tidak mudah...."

Dan ini nih yang tidak bisa dilupakan, bahwa Walaupun Tuhan menguji kita, membawa kita kepada perjalanan yang sulit bahkan penderitaan, Dia sama sekali tidak membiarkan kita Sendirian.  Ayat 21 Jelas sekali menyatakan bahwa Tuhan menurunkan tiang awan kala panas terik menimpa orang Israel.  Sedangkan di kala mala yang dingin menusuk dan
kegelapan malam menghantui, Tuhan sediakan Tiang Api.

AMAZING.....

So??? Tuhan Memang sering/pernah menguji kita, tetapi tujuannya positif dan Dia ulurkan tangan kasih-Nya menolong kita melewati masa-masa ujian.  TERPUJILAH DIA.

HALELUYA..


Thursday, August 22, 2013

Sya "No" to Plagiat

Kolose 2:3
sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan

Pemirsa....

Satu harian kemarin saya sangat sibuk, bila tak hiperbolis saya katakan super sibuk. Sehingga serasa tak punya waktu untuk merenung sejenak guna dapat inspirasi dari hembusan angin sepoi, hehe.  Maksud saya dari Roh Kudus.  Sementara sudah komitmen minggu lalu bahwa "rumah mungil" ini akan saya isi setiap hari satu tulisan.  Jujur saja saya sempat berpikir untuk mencontek salah satu renungan harian dari "rumah" lain. Syukur niat itu urung dilakukan, sebab itu namanya plagiat.  Dan saya adalah anti plagiat alias mencontek karya orang lain.

Rekan-rekans, Kali ini kita ke menu "belajar berkhotbah".  Suatu waktu saya mendengar seorang pengkhotbah "besar" dengan lantang berkata:  Kalau berkhotbah, Anda Jangan jadi Monyet atau Bodat. Kenapa dengan Monyet atau Bodat?  Sebab monyet atau Bodat suka meniru-niru kita persis seperti gaya dan gerakan kita.  Pernyataan beliau ini benar, karena kala masih dikampung dan sering melihat monyet, memang jenis yang satu ini suka meniru gerakan-gerakan kita.  Bodat juga demikian.

Rekan-rekans, saya tertarik sekali dengan topik peniru-niru ini dalam hal berkhotbah. Faktanya memang sadar atau tidak sadar beberapa pengkhotbah telah menjadi tukang plagiat atau tukang niru-niru gaya dan materi khotbah orang lain.  Saya sudah mendengar itu, mulai dari keras lembut suara, intonasinya, bumbu-bumbunya dan yang paling menyedihkan hehe materinya pun sama persis.  Kata pengkhotbah di atas, mereka ini adalah "monyet" dalam hal berkhotbah.

Meniru-niru orang lain berbeda dengan belajar dari orang lain.  Tidak ada yang salah bila kita belajar dari khotbah orang lain.  Tetapi semestinyalah kita bijaksana untuk mengambil hal yang penting saja dari seorang pengkhotbah dan jangan bermimpi bakal sama persis seperti dia.  Barang kali seseorang itu adalah idola kita, tetapi jangan berpikir untuk
menjadi orang tersebut.  Itu tidak mungkin.  Atau sebetulnya bisa saja kita kutip sesuatu pernyataan populer dari idola kita, tetapi saat menyatakan ulang kepada jemaat, kita beritahu bahwa hal itu kita dapat dari Pdt X atau Pdt Y.

Bahaya dari plagiat ini adalah pertama, besar kemungkinan kita tidak "satu roh" dengan khotbah yang kita bawakan sebab merupakan contekan dari pengkhotbah lain.  Kedua, bahwa bisa saja contekan ini sudah pernah juga di dengar oleh jemaat dan akan ketahuan bahwa kita meniru-niru.  Yang ketiga, bisa saja pengkhotbah yang lain juga mencontek hal
yang sama dan saat ada kesempatan berkhotbah kepada jemaat dengan materi yang sama maka jemaat akan bingung.  Siapa yang mencontek siapa? hehe.

Karena itu, bagi para pengkhotbah silahkan beajar dari orang lain, tetapi jangan berlagak ingin sama seperti orang lain, sebab kita bukan "monyet" tetapi orang-orang yang cerdas, kreatif dan inovatif.

Tuhan Memberkati..

Haleluya....


Wednesday, August 21, 2013

Malam Pertamaku....

I Korintus 15:58

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia

Pemirsa..... Tidak semua orang bisa jadi penyanyi, tetapi semua orang bisa (diusahakan) menyanyi, kecuali maaf tidak punya mulut atau bermasalah dengan pita suara.  Tidak semua orang jadi olahragawan, tetapi siapa saja dalam keadaan normal bisa berolahraga.  Dalam pelayanan, tidak semua orang bakal jadi pemusik handal, tetapi semua orang punya peluang
bisa memainkan musik, begitu pula tidak semua bakal jadi pengkhotbah tetapi setiap orang punya kesempatan belajar berkhotbah dan akhirnya berkhotbah.

Rekan-rekans... Saya punya pengalaman sedikit unik saat pertama-tama sekali ambil bagian dalam pelayanan.  Kala itu masih kelas 2 SMK.  Kami sepakat dengan beberapa orang Pemuda ditambah pembina di GPI Pangaloan untuk mengaktifkan kembali Ibadah Pemuda yang telah lama tenggelam tertelan waktu. Napaknya tidak ada pilihan lain untuk jadi Pemimpin Pujian (WL) selain saya, yang kala itu juga baru terpilih menjadi ketua Pemuda.

Yang jelas saya termasuk orang yang tidak bertalenta jadi WL, lagi pula belum pernah sekali.  Sehingga tidak susah menebak; bahwa kegugupan, ketegangan sampai kegentaran (hahaha) tidak bisa dielakkan. Yang paling mencolok adalah ketika waktunya masuk Doa Pembukaan Berfirmanlah ya Tuhan.. Entah bagaimana bisa terjadi daku juga kagak tahu, hehe.  Yang saya ucapkan malah:  Mari kita sama-sama mengucapkan Doa Pembukaan: BAPA KAMI YANG DI SORGA, huakakakakakakakkakakaka. Langsung saja di interupsi oleh Pembina, kala itu Gr H Siahaan yang kini telah jadi Pendeta Muda.

Rekan-rekan, untuk menjadi pelayan bidang apapun itu: jangan sungkan untuk mencoba.
Saat kita tidak mencoba, kita tidak tahu apa-apa.  Saat kita mencoba, kita akan menemukan kesulitan-kesulitan tetapi pikiran kita akan segera mencari formula baru untuk mengatasi kesulitan.  Mencoba adalah tindakan yang membawa kita masuk kepada pengalaman baru, level baru, atmosfir baru dan tentunya kualitas baru. Bayangkan bila saya tidak pernah mencoba (karena merasa tidak bisa) jadi WL kala itu.  Kemungkinan sampai kembali ke tanah kelak saya tidak akan pernah menjadi WL dalam ibadah.  Sebaliknya keberanian di Malam Pertama kala itu membuat saya hingga kini tidak canggung menjadi Pemimpin Pujian dalam ibadah-ibadah yang saya ikuti.  Malah saya sangat senang menjadi seorang WL dalam Ibadah.

Ketika kita melihat ada perkembangan dan kemajuan kemampuan yang kita miliki di dalam diri kita yang bisa kita lihat dan rasakan seiring waktu berjalan, bukankah itu suatu kebahagiaan dan kebanggaan? Misalnya saja dari pengalaman Malam Pertama yang gugup, canggung dan belepotan, kini sudah dinikmati dan tidak ada kesulitan.  Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu.  Yang paling fantastis adalah:  Upah kita besar di Sorga seperti kata Paulus dalam ayat di atas.

Tuhan Mmberkati.  Haleluya


Tuesday, August 20, 2013

Rumus Terbaik: Harmoni

I Korintus 3:4
Karena jika seorang berkata, "Aku dari golongan Paulus dan yang lain berkata "Aku dari golong Apolos", bukankah itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

Pemirsa.... Beberapa hari yang lalu ada sebuah rencana protes yang membuncah di dadaku. Protes kepada Seksi Festival HUT 70 Tahun GPI.  Dalam notasi Lagu wajib yang disajikan panitia, saya menemukan satu notasi yang menurut yang SAYA TAU tidak tepat, karena mencolok nada dan posisinya.  Esok hari di Siantar dalam Rapat Panitia sudah saya rencanakan untuk aksi protes ini.

Tetapi untung saja belum terlanjur.  Sore tadi kami kedatangan pengajar V Group yang Oke Punya. Notasi yang saya anggap salah ini saya tanya kepada beliau.  Eh ternyata justru bagus bila not itu ada.  Justru itu sebuah peluang untuk menciptakan harmoni yang menarik yang mungkin saja kontingen yang lain tidak memahaminya.  Tinggal memanajemen suara yang ada dengan baik, menciptakan keseimbangan, maka hasilnya akan memanjakan telinga.

Kawan-kawans...Kita tidak bisa menafikan bahwa di dalam organisasi selalu ditemui perbedaan, dan tak jarang perbedaan ini menjadi bibit perselisihan.  Repotnya meski dalam organisasi pelayanan pun tak jarang timbul perselisihan yang cukup tajam yang berujung pada perpisahan, lebih parah lagi bukan hanya perpisahan tetapi permusuhan panjang yang berbuah kebencian antara satu dengan yang lain.

Salah satu persoalan yang mengemuka dewasa ini di dalam pelayanan adalah adanya munculnya perbedaan kepentingan dan kebutuhan yang diakibatkan oleh perbedaan generasi.  Ada generasi tua yang cenderung stagnan, kolot dan statis.  Di satu sisi muncul generasi muda yang cenederung dinamis, menggebu-gebu dan menginginkan perubahan cepat.  Hal ini tak jarang menimbulkan persoalan yang bisa berpengaruh
negatif terhadap kemajuan pelayanan.  Dua generasi berbeda ini masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Kelebihan Generasi Tua adalah biasanya tidak terburu-buru, bertindak dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang.  Generasi Muda juga punya keunggulan karena cenderung innovatif, kreatif, serta cekatan dalam bertindak.

Sebenarnya apa rumus terbaik untuk mengelola perbedaan ini dan memformasinya menjadi sebuah kekuatan?  Rumus yang terbaik adalah HARMONI.  Yaitu keseimbangan dan keselarasan potensi dan sumber daya yang ada.  Generasi Tua perlu membuka diri terhadap tuntutan generasi muda, Tetapi Generasi Muda perlu rem untuk menghormati Generasi Tua. Ingatlah ini, Generasi Tua yang membuka diri dan mengalah kepada generasi muda tidak akan mengurangi wibawa generasi tua, demikian juga sebaliknya.  Bila suatu waktu generasi muda megalah kepada generasi tua, dunia belumlah kiamat.  Perjalanan masih panjang, ruang dan waktu yang tidak sedikit masih terbuka di masa depan.

Dengan harmonilah kita bisa mempertahankan persekutuan kita.  Meletakkan perbedaan yang ada pasa tempatnya dan membentuk formasi yang kuat dari perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan.  Yang terlalu panjang dipendekkan, yang terlalu pendek dipanjangkan. Yang pintar sabar kepada yang tidak pintar, yang tidak pintar belajar dari yang pintar. Itulah harmoni sejati.

Tuhan Memberkati.

Haleluya..


Monday, August 19, 2013

Jadi Penonton di Sorga??

Wahyu 4:4b
Dan dengan tidak henti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."

Wahyu 7:15
Karena itu mereka berdiri di hadapan tahta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya.  Dan Ia yang duduk di atas tahta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.

Permirsa.... Nanti pekerjaan kita di Sorga apa sih??  Hehe, pertanyaan ini sedikit aneh, menggelitik, mengejutkan tetapi bisa saja membuka mata dan pikiran kita.  Pernahkah kita mencoba mempelajari dan mencari tahu apa yang menjadi pekerjaan kita di Sorga?  Yang
jelas profesi seperti yang ada di dunia saat tidak akan ditemukan di Sorga.  Jangan berharap di Sorga anda bisa jadi toke kaca mata, sebab tidak ada yang butuh lensa maupun teropong di Sorga, hahaha.

Rekan-rekans, kedua petikan ayat di atas rasanya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kita.  Bahwa kelak tugas kita di Sorga adalah melayani Dia sang penebus kita, Tuhan Yesus Kristus siang dan malam dan itu akan berlaku sampai selama-lamanya.

Mengetahui dan mengingat tugas kita ini, saya jadi teringat kepada beberapa teman dan jemaat yang enggan turut melayani Tuhan di gereja atau persekutuan.  Mereka sepertinya punya prinsip bahwa cukuplah datang dengan tulus hati dan menikmati setiap ibadah yang diikiti, tanpa merasa perlu ikut terjun menjadi pelayan dalam sebuah ibadah.  Dalm arti hanya sebagai penikmat dan penonton saja tanpa melibatkan diri menjadi bagian dari para pelayan.  Beberapa orang kita dapati meskipun sudah puluhan tahun bergabung dengan sebuah persekutuan, tetapi kelihatannya enggan untuk turut ikut serta menjadi pelayan. Padahal, bagaimanapun keterlibatan seseorang sangatlah dibutukan untuk mendukung kemajuan pelayanan.

Nah...Jika kelak tugas kita adalah melayani Tuhan siang dan malam, mengapa tidak sedari kini kita mulai iktu melayani? Logika saya berkata, tidak mungkin nanti tiba-tiba anda jadi pelayan di Sorga sementara selama di dunia ini anda enggan melayani.  Enak aja lu....hahaha.  Siapa yang biasa melayani Tuhan di bumi, ya dia dong yang kelak akan jadi pelayan di Sorga.  Saya yakin itu.

Karena itu, bila rindu terlibat melayani Tuhan di Sorga kelak, marilah mulai sekarang kita terlibat dalam pelayanan di gereja kita, di persekutuan kampus, di jaringan doa atau komunitas apa pun.  Jangan puas hanya menonton, supaya di Sorga kelak kita pun tidak
hanya jadi penonton.

Tuhan Memberkati.

Haleluya.....


Sunday, August 18, 2013

Telat beribadah, Anda kehilangan ini:

Mazmur 22:23

Aku akan memasyurkan nama-Mu  kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:


Pemirsa, dua tiga orang jemaat memberitahu saya bahwa alasan mereka sering terlambat adalah karena merasa bahwa yang terpenting dalam sebuah ibadah adalah Khotbah,
sedangkan pujian-pujian di awal ibadah bagi mereka hanyalah pemanasan saja sebelum sampai kepada inti ibadah yaitu mendengar Firman Tuhan atau Khotbah.  Benarkah dalil mereka ini?


Sebenarnya bagian mana sih yang paling penting dalam sebuah konstruksi ibadah?  Apakah Khotbah/Firman Tuhan, atau doa-doa atau pujian penyembahan kepada Tuhan?  Bagi saya, tiga-tiganya 100% penting dan ketiganya merupakan inti daripada sebuah ibadah.  Idealnya dalam setiap ibadah kita mendapatkan ketiganya.  Kita ikut dan merasakan hadirat Tuhan dalam puji-pujian.  Kita juga menyembah Tuhan dan menyampaikan permohonan dalam Doa, dan melalui khotbah kita diajar memahami dan mengamini Firman Tuhan.

Bila anda adalah tukang telat, maka anda telah kehilangan salah satu elemen penting dari sebuah ibadah, terutama pujian penyembahan yang biasnaya dimulai di awal-awal ibadah. Bila ditelisik lagi, bukankah ibadah itu adalah waktunya memuji dan menyembah serta mengucap syukur kepada Tuhan.  Kalau bukan dalam pujian diwadah mana lagi kita punya kesempatan untuk memuji Tuhan?

Lagi pula di awal-awal ibadahlah biasanya kita berksempatan menyanyikan lagu-
lagu pujian yang bermaterikan semi vertikal. Dalam istilah saya semi vertikal yaitu lagu-lagu yang selain arahnya ke atas kepada Tuhan, tetapi juga menyinggung kebersamaan jemaat sebagai satu kesatuan dalam persekutuan. Misalnya:  Hari ini kurasa bahagia, atau Kukasihi kau dengan kasih Tuhan.  Lagu-lagu semacam ini memberi celah kepada kita untuk saling berinteraksi dengan sesama jemaat sambil memuji Tuhan.

Malulah jadi Tukang Telat.  Tetapi mari komit tidak lagi telat datang beribadah.  Selamat beribadah, hindarkanlah kebiasaan terlambat, ikuti rangkaian ibadah seutuhnya dan dapatkan berkat yang UTUH dari Tuhan.

Tuhan Memberkati.

Haleluya....