Mission Started. Misi telah dimulai. Kiranya Tuhan Memberkati..

Saturday, August 17, 2013

Dari kita untuk Negeri, Ini yang Tuhan mau

2 Tawarikh 7:14
dan umat-Ku, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka aku akan mendengar dari Sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka

MERDEKA....MERDEKA.... Sekali Merdeka, tetap Merdeka... Amin.

Pemirsa.....Beberapa orang telah saya dengar berkata bahwa sampai sekarang kita belum
bener-benar merdeka.  Pernyataan bernada skeptis ini tidak bisa saya salahkan.  Sebab mereka menguraikan bukti-bukti bahwa betapa bangsa ini belum bebas dari korupsi, dari mafia hukum, dari nerkoba.  Yang lain berkata sampai sekarang masih banyak penduduk yang belum mendapatkan penerangan listrik dan air bersih.  Itu sebabnya saya tidak bisa menyalahkan mereka, malah menerima bahwa apa yang mereka uraikan adalah benar adanya.

Kawan-kawan.... sebagai anak Tuhan bagaimana kita memaknai kemerdekaan ini ditengah-tengah situasi bangsa yang masih carut-marut ini?  Demonstrasi?  Menyalahkan pemerintah?  Revolusi atau EGP?

Sejatinya sebagai anak Tuhan, dan sebagai bagian dari negara ini sebenarnya kita punya kewajiban untuk memperbaiki bangsa ini.  Inilah yang diinginkan Tuhan dari kita, bila bangsa ini ingin sembuh dari penyakitnya yang sudah lama:  

Kita harus:
1.  merendahkan diri (Bangsa ini terlalu pongah dan sombong kepada Tuhan)
2.  Berdoa dan Mencari wajah Tuhan (Sebaliknya wajah Tuhan Yesus dicaci di negeri ini)
3. Berbalik dari jalan-jalan yang jahat (Nyaris tidak ada jenis kejahatan yang tidak ditemukan di negeri ini)

Tetapi bila kita melakukan ketiga hal di atas untuk negeri ini, Maka Tuhan akan:
1.  mendengar doa kita dari Sorga
2.  Mengampuni dosa kita
3.  dan memulihkan negeri kita

Beberapa nabi abad 21 telah menubuatkan bahwa suatu saat Indonesia akan mengalami penuaian jiwa besar-besaran dimana akan terjadi ledakan injil diberitakan dimana-mana di seantaro nusantara dan banyak orang yang akan diselamatkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus.  Sebagai anak Tuhan, mari kita amini nubuat ini dan memberi jalan untuk penggenapan itu dengan terus peduli dan berdoa untuk negeri ini.

Sudah pernah bersyafaat untuk bangsa ini?  Jangan-jangan belum pernah sama sekali...hahaha.  mari Peduli untuk Bangsa.

Tuhan Memberkati
Haleluya.....


Friday, August 16, 2013

SERMON: Identitas Gereja Mula-mula. Mengapa Hilang??

Roma 10: 14:
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?  Bagainana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia.  Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya

Pemirsa.....hehe.  Saya suka menambahkan ayat di atas begini: Bagaimana mereka memberitakan tentang Dia kalau mereka TIDAK MENGERTI Firman tentang Dia???  Bahkan sering pula saya tambahkan: Bagaimana mereka MENGERTI kalau mereka tidakn belajar? Dan dimana mereka belajar kalau bukan dari Gereja?


Coba kita bayangkan ilustrasi ini, seorang dari agama lain atau seseorang yang tidak belum pernah mendengar tentang Yesus datang kepada kita.  Dia berkata: Saya ingin sekali menjadi seorang Kristen, Saya ingin megerti tentang keselamatan yang sempurna.  Dengar-dengar Tuhan kita itu Tiga tapi Satu atau Tritunggal. Tolonglah, saya ingin sekali mengerti ajaran Kristen dan saya ingin menjadi Kriten.  Tetapi karena kita pun linglung atau tidak paham tentang Tritunggal maka sudah pasti kita tidak bisa menjelaskan.  Dan gagallah satu jiwa mengenal Kritus lantaran satu hal:  Kita tidak pernah atau jarang MEMPERDALAM Ajaran Kristen Itu sendiri.

Rekan-rekans, Sermon adalah gaya atau Identitas Gereja Perjanjian Baru atau kita sebut gereja mula-mula.  Bila kita membaca Kisah 2:42 bagaimana mereka tekun berkumpul setiap hari dan mendapat pengejaran akan Injil dari rasul-rasul.  Home Church, dari rumah ke rumah para rasul dan emaat mula-mula mengadakan persekutuan sambil tekun belajar dan mengajar tentang Yesus dan Keselematan.

Itu pula menjadi identitas gereja Pentakosta mula-mula.  Pendiri gereja ini melakukan penginjilan dengan konsep Home Church dan mengadakan sermon dalam setiap pertemuan persekutuan.  Sermon inilah sebagai "Sekolah Teologi" para murid-murid pendahulu kita kala itu, sebab kala itu belum ada sekolah Teologia.  


Kalau kita mau jujur, Sermon atau istilah modern kita sebut Pendalaman Alkitab telah langka di gereja-gereja masa kini.  Padahal betapa pentingnya Sermon ini untuk membekali jemaat dan generasi muda kita untuk memahami dasar-dasar dan pundasi iman yang mereka anut.  Bila jemaat dan generasi muda masa kini tidak kita bekali dengan Pendalaman Alkitab yang memadai, maka kemungkinan yang terjadi bukan hanya mereka gagal menginjili orang lain, malah kemungkinan mereka sendiri yang akan ditarik dan berpibdah keyakinan.

Betapa menyedihkan bila hal itu sampai terjadi.  Bukan kita saja yang sedih, tetapi beribu-ribu malaikat di Sorga juga bakal menangis.  Sebaliknya bila satu orang berdosa menerima keselamatan yang sejati, beribu-ribu malaikat akan bersorak mengguncang Sorga.

Karenanya, marilah kita galakkan kembali Sermon atau Pendalaman Alkitab ini.  Banyak bahkan terlalu banyak hal yang bisa dijadikan topik Pendalaman Alkitab.  Bisa muncul dari Jemaat atau Gen Muda, bisa juga inisiatif dari Hamba Tuhan.  Selain bermanfaat untuk menambah wawasan dan modal pengetahuan jemaat, hal ini pun akan memacu Hamba Tuhan untuk belajar lebih banyak lagi.  Jangan pula jemaat jadi lebih paham Alkitab dibandingkan Hamba Tuhan.

Mari ber-Sermon atau ber-PA.  Niscaya gereja kita akan kuat dalam hal Pemahaman Alkitab.

Tuhan Memberkati.  Haleluya



Thursday, August 15, 2013

Indahnya Keterbukaan..

I Kor 1:10:  Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir

Sebagai seorang pelayan di salah satu gereja, ada hal yang cukup lama saya pendam bahkan menjadi pergumulan dalam batin. Beberapa kali saya merindukan sharing atau cerita dan diskusi empat mata atau lebih dengan Pendeta pimpinan atau gembala sidang kami. Tetapi rencana ini selalu terpending. Penyebabnya adalah saya takut Bpk Pendeta ini marah, atau menolak atau menganggap tidak penting ataupun terlebih dahulu negatif thingking. Ketepatan Bpk Pendeta ini termasuk tipe orang yang tertutup dan kurang lihai berkomunikasi dan beramah tamah dengan jemaat dan Hamba Tuhan lainnya. Jadilah kerinduan dan harapan-harapan yang membuncah di dada tertahan.

Singkat cerita dengan diboncengi rasa ragu dan sedikit takut, saya beranikan menghubungi Bpk Pendeta ini dan menawarkan
pertemuan santai alias ngopi-ngopi. Tak lupa saya mengajak teman yang lain yang dianggap bisa berbagi pengalaman pelayanan. Apa yang terjadi? Ternyata bukan hanya saya saja yang memendam banyak hal yang berkaitan dengan keinginan untuk memajukan pelayanan di gereja kami. Dengan haru Bpk Pendeta juga ternyata dari dulu merindukan hal-hal seperti ini. Hanya saja beliau melihat sepertinya tidak ada yang bisa diajak bicara dan diskusi untuk kemajuan pelayanan yang dipimpinnya. 

Sudah bisa ditebak, selain keharuan yang terjadi lahir pula beberapa komitmen untuk bersama-sama bekerja memajukan pelayanan. Muncul pula ide-ide baru. Dan yang lebih penting: Keterbukaan ini telah bagaikan Embun Elia yang mencairkan suasanan hubungan yang kering, tertutup dan penuh kecurigaan selama ini. Muara pertemuan yang indah ini sudah jelas: Keterbukaan adalah Awal Dari Pemulihan. HALELUYA

Pemirsa...hehe. Keterbukaan itu Indah adanya. Terutama dalam pelayanan. Sebaliknya ketertutupan akan menjadi bibit kecurigaan di antara kita sesama pekerja di ladang Tuhan. Karena itu budayakanlah keterbukaan, upayakanlah sesering mungkin pertemuan-pertemuan dan diskusi sesama anak-anak Tuhan dan terutama sesama Hamba Tuhan. Dengan bertemu ,saya tahu yang dihati anda, dan anda tahu apa yang dihati saya. Anda jadi tahu yang saya
tidak suka, dan saya tahu apa yang anda tidak suka. Dengan demikian tidak ada lagi rasa saling curiga, tidak ada lagi persaingan, tidak ada lagi gosip, tidak ada lagi fitnah. Tetapi antara satu dengan yang lain sehati sepikir dan satu tujuan, bekerjasama dan saling tolong menolong.

Bukankah itu arti sesungguhnya dari PERSEKUTUAN???

HALELUYA


Wednesday, August 14, 2013

Jangan Kebanyakan "saudara"

Pemirsa....hehe.  Kawan-kawan sekalian, setiap orang berharap datang ke gereja, bertemu dengan rekan-rekan se persekutuan, lalu sama-sama bernyani memuji Tuhan dan salah satu yang pasti ditunggu-tunggu (bila tak berlebihan mengatakan sebagai yang terpenting) adalah khotbah pada hari itu.


Menyadari bahwa Khotbah merupakan satu bagian yang sangat bahkan yang paling penting dalam ibadah, tentulah kita semestinya berpikir secara serius menyiapkan khotbah yang menarik.  Tak ubahnya melayani para penikmat kuliner di Rumah Makan.  Penyaji mestilah memperhatikansecara serius mulai dari bahan utama makanan, bumbu-bumbu pendukung dan tak kalah penting racikan serta metode penyajiannya.  Bila tidak, siap-siaplah pondok makan ditinggal sepi para pelanggan.

Kali ini kita mau sharing soal bahasa pengkhotbah. Sebagai penikmat dan sesekali penyaji khotbah, saya tak jarang memperhatikan secara detail pola bahasa, redaksional dari seorang pengkhotbah.  Karena penasaran dengan seorang pengkhotbah yang terlalu sering mengucapkan "saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan", suatu waktu saya mencoba "jahil" menghitung berapa kali si pengkhotbah mengucapkan kata-kata favoritnya tersebut.  Mengejutkan, hampir setengah dari seluruh redaksi khotbah beliau diisi oleh kata-kata favorit tersebut.  Termasuk saudara-saudara, saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Tuhan kita yang hidup, sudarkamatuhan, sudaku, saku, Sudakistus Yesus, saudaraku, dan lain-lain.

Kawan-kawan, kalau khotbah begini kita dengar sekali 5 tahun tentulah tidak akan menjengkelkan, tetapi bayangkan bila tiap minggu kita disuguhi dengan khotbah berkelas begitu.  Apa kata dunia?? 

Tidak disengaja???

Entahlah, ada orang yang berkata bahwa kebiasaan buruk ini bukanlah disegaja, atau bahkan beberapa pengkhotbah mungkin saja tidak menyadari atau sor sendiri bahwa dia telah terlalu boros memakai dua atau tiga jenis kata.  Karena itulah makanya penting bagi seorang pengkhotbah untuk mencoba bertanya kepada temannya, kepada isterinya atau kepada siapa saja yang bisa memberikan saran-saran yang konstruktif demi perbaikan khotbah di masa berikutnya.

Bukan apa-apa, akibat buruknya adalah:  Persekutuan kita bakal ditinggal sepi oleh para hadirin, hehe.

Haleluya...


Selamat Berkhotbah.,,,,,


Marsinggang ro tu JoloMu

Betapa Indahnya Lagu Pujian ini. Ayat pertama menjelaskan kepada kita bagaimana Tuhan tetap memelihara bahkan mencari kita. Dia menunggu kita dengan sabar sampai kita merespon kasih dan kebaikan-Nya dengan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Ayat kedua menjelaskan bagaimana manusia sering mengabaikan panggilan Tuhan. Kebanyakan dikarenakan kita mengutamakan kepentingan duniawi dibandingkan dengan menerima Kristus dalam hidup kita.

Frasa "didia ho...didia ho.." menungjukkan suatu kerinduan yang dalam dari yang memanggil kepada orang yang dipanggilnya. Itulah bukti betapa Tuhan tidak ingin melihat kita ciptaan-Nya hilang tertelan dunia sementara lupa dengan kehidupan setelah kematian. Padahal Tuhan menyediakan kehidupan kekal setelah kematian yaitu di Sorga yang kekal.

Ayat tiga membawa kita pada suatu komitmen untuk bertobat dan datang kembali kepada Tuhan. Suatu sikap merespon dan menerima Tuhan serta dengan berlutut datang menyembah kepada-Nya, mulai dari mengakui dosa-dosa dan kejahatan dan meninggalkan masa lalu. Ya...Bapa yang penuh kasih, aku datang dan menyadari bahwa aku adalah milik-Mu, aku datang menyembah engkau berlutut dihadapn-Mu dan merendahkan diri pertanda penyerahan total.

Berikut Redaksi Lengkap Lagu yang luar biasa dan berdampak ini. Oleh Pendeta Umum GPI, lagu ini disarankan sebagai lagu wajib Biro Pemuda pada Festival Pujian HUT GPI ke-70 di Sintar, September 2013 nanti.

Tontong sai diranapi Ho do au Tuhan
Manang tudia pe au lao ale amang
Tontong maima-ima rohaMi di au
Aut sadihari mulak rohakki tu Ho

Reff:
Didia ho, didia ho, dijouhon Ho do tu au na dangol on
Didia ho, didia ho, dijouhon Ho do tu au na dangol on

Jotjot so hutangihon jou-jouMi
Namanjou au asa jonok tu lambung-Mi
Jotjot so hutangihon jou-jouMi
Alani panarihokki di ngolukki

Reff: Didia ho....

Ro do nuaeng au tu lambungMu oh Tuhan..
Mangalusi hatam mandok didia ho
Ro do nuaeng au tu lambungMu oh Tuhan
Ai hataMi nalamboki so magopo

Reff:
Disondo au ale amang, ikkon marsinggang do au ro tu jolom
Disondo au ale amang, ikkon marsinggang do au ro tu jolom

Tuhan Memberkati. HALELUYA