Mission Started. Misi telah dimulai. Kiranya Tuhan Memberkati..

Wednesday, November 03, 2010

Senandung "Arirang", secercah harapan pemersatu Korea



Arirang Versi Batak

Arirang………. Kata ini otomatis menghantarkan ingatan saya untuk sejenak kembali pada pengalaman hidup masa lalu. Yaitu ketika masih di sekolahan. Karena arirang bukanlah sebuah nama yang hanya sekedar saya kenal, tetapi arirang bahkan menjadi jembatan bagiku untuk lolos dari ujian waktu dan keadaan untuk menggapai banyak hal kala itu, utamanya ujian keuangan. Sebab dengan arirang, biaya sekolahku sangat terbantu.

Sebelum kita berlayar jauh ke Korea Utara dan Selatan,
saya ingin jelaskan sekilas apa itu arirang versi Batak. Jika kita pernah melihat pohon aren dewasa, pastilah kita juga pernah melihat arirang. Karena arirang iu sendiri adalah buah dari pohon aren dewasa. Aren memiliki dua jenih buah yang bias saya katakana merupakan abang-adik. Karena dipastikan yang satu mendahului yang lain. Yang pertama namanya Halto (dalam bahasa batak) sedangkan satu lagi itulah yang bernama ARIRANG. Halto dipastikan duluan dan kemudian Arirang “menetas”.

Halto ini ketika masih muda biasanya dimanfaatkan menjadi bahan dasar kolang-kaling, sejenis makanan khas ramdhan. Disamping itu juga bias dimanfaatkan jadi sejenis sayuran.

Nah….. Sedangkan ARIRANG adalah sumber dari minuman khas orang batak yaitu TUAK. Kurang lebih, arirang butuh waktu sekitar enam bulan sejak lahirnya, baru bias diproduksi untuk menghasilkan tuak. Tentu saja bukan fisik arirang ini yang dioleh menjadi tuak. Melainkan ketika arirang sudah menebar aroma khasnya dan ditandai dengan kerumunan lebah disekelilingnya, itu pertanda arirang sudah bias dipotong meninggalkan batangnya. Nah… Dari batang inilah tetesan demi tetesan jernih ditampung di dalam ember. Inilah yang dinamakan tuak. Biasanya menghasilkan 10-20 liter per hari.

Saya sendiri adalah seorang tukang tuak, jika tak berlebihan disebut ahli meramu tuak kala masih sekolah. Tentu saja hasil penjualan tuak ini lumayan membantu biaya sekolah.

Arirang Versi Korea

Sebenarnya TIDAK ADA HUBUNGAN arirang versi Batak ini dengan versi Korea. Saya hanya ingin menjelaskan saja kepada para pembaca bagi yang belum kenal arirang ini. Yang kedua, kebetulan Arirang ini punya catatan sejarah dalam diri saya, jadi saya sangat tertarik untuk menulis ketika membaca kata ini dalam hubungannya dengan reuni kedua bangsa Korea.

Arirang adalah sebuah lagu tradisional yang selalu bersenandung di sela-sela reuni dua bangsa Korea yaitu korea utara dan korea selatan. Reuni ini dimaksudkan bagi para keluarga yang terpaksa terpisah oleh karena berpisahnya dua Negara serumpun ini akibat konflik dan perang yang berkepanjangan.

Perpisahan ini tentu saja sangat menyedihkan bagi semua keluarga. Kita bisa bayangkan bila anggota keluarga yang kita cintai tidak bisa bertemu. Apalagi kita tidak mendapat kepastian apakah mereka masih hidup atau sudah mati, sehat atau sakit dan sebagainya.

Masih ada harapan


Mungkin saja para keluarga yang memendam rasa rindu setengah mati inilah yang mendesak pemerintah kedua korea untuk memfasilitasi para keluarga untuk bisa melakukan reuni dan menumpahkan rasa rindu mereka masing-masing. Akhirnya diberikanlah wadah oleh kedua pemerintah Negara yang dikemas dalam acara reuni. Kalau tidak salah acara reuni ini diberikan pemerintah kedua Negara 5 kali dalam setahun.

Nah… pada klimaks acara reuni inilah lagu “Arirang” bersenandung yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh keluarga yang yang sedang larut dalam kebahagiaan tiada tara.

Pesan dan inti sari dari lagu ini adalah:
1. Bahwa ketutunan mereka akan tetap saling mengenal turun temurun meski harus berpisah Negara dan identitas kewarganegaraan.
2. Bahwa dalam lagu ini juga tertuang suatu kerinduan yang sangat dalam, bahwa suatu saat kedua korea yang berseteru dan bermusuhan akan kembali bersatu dan saling memaafkan.

Mungkin saja poin dua di atas akan mustahil terwujud, namun mereka tetap berikrar bahwa dalam setiap kesempatan reuni, ARIRANG akan tetap berkumandang agung dan hebat yang dibakar oleh semangat ingin bersatu di antara mereka semua.

Arirang….. Pesan perdamaian…….. Sebuah jembatan harapan pemersatu Korea.


Monday, November 01, 2010

Plesiran ke LN, Penyakit DPR Hanya Kambuh...


Jelas sekali saya tak heran. Tak heran jika ditengah kepedihan dan terjangan badai yang menghujam bangsa ini, para anggota Dewan Perusak Rakyat tetap memilih ngotot plesiran ke luar negeri. Sebab itu bukan penyakit baru. Penyakit DPR menyakiti budaknya (rakyat) bukan hal yang baru. Itu sebabnya saya katakan, penyakit ini hanya Kambuh saja. Bukan diagnose penyakit baru.

Hanya saja DPR kali ini makin mati rasa pula.
Sekaligus makin terlihat kepintaran dan kelicikan. Bila kita melirik ke belakang sedikit, dalam kasus Situ Gintung tahun lalu, yang kebetulan menjelang Pemilu, bendera Partai Politik berebut tempat tancapannya di reruntuhan Situ Gintung. Supaya para sukarelawan palsu ini seolah ikhlas menolong sengsara korban.

Malang nasib Mentawai dan warga gunung Merapi. Mereka jauh lebih bernasib sial di banding warga situ Gintung. Kepedihan yang terjadi tidak sedang dalam Pemilu. Sehingga para actor “penolong palsu” Situ gintung, tak punya alasan untuk menancap bendera partai masing-masing di Mentawai maupun di sekitaran merapi.

Itu sebabnya tanpa perlu mengintip kiri dan kanan, mereka tetap saja memilih plesiran. Anehnya, make up juru bicara parpol pun makin manis saja ber lip service. Mereka menggemborkan di media bahwa partai A melarang anggotanya plesiran ke luar negeri. Hahahahhaha.. Faktanya????

Sudahlah, sebenarnya muak untuk membahas penyakit DPR kita ini. Hanya saja ketika rakyat Indonesia begita beringas menghujat para anggota Dewan Perusak Rakyat karena tingkahnya, saya serasa perlu meluruskan sedikit. Kasihan rakyat yang sebelumnya tidak tahu “aslinya” para anggota DPR yan gdulu dipuja dan dipilihnya.

Jadi saya hanya mau mengatakan, penyakit ini bukan penyakit baru wahai anak negeri. Dewan Perwakilan Rakyat hanya sedang Kambuh Penyakitnya.