Hidup itu bisa jadi tak semudah yang kita bayangkan, tetapi sering tidak sesulit yang kita kwatirkan..

Friday, October 01, 2010

Awal Oktober yang Menegangkan


Seluruh masyarakat Indonesia terutama kalangan bhayangkara tidak bias menyembunyikan rasa penantian yang sudah ak sabar dan menegangkan keputusan sang Mr Presiden ES BE YE. Yaitu penantian akan siapa dan tanggal berapa Presiden akan mengusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat DPR nama Bhayangkara-I atau KAPOLRI yang akan memimpin Institusi Kepolisian di masa mendatang.

Rasa penasaran ini wajar mengingat hampir dua minggu terakhir ini,
Presiden seperti sengaja mengulur-ulur atau terkesan menahan untuk tidak membocorkan nama pilihannya yang akan menjadi calon Kapolri. Terakhir informasi dari istana adalah bahwa ‘Awal Oktober” sang Presiden akan menyetor nama calon Kapolri.

Pertanyaan yang penuh dengan rasa penantian adalah: Kapan kira-kira? Mengingat dalam press release dari Cikeas tidak menyebut secara terang-terangan akan hari dan tanggal penyerahan nama tersebut. Ah.. Pak Be Ye ini ada-ada saja. Padahal masa pengabdian Kapolri Lama pak bambang Hendarso Danuri tinggal menunggu hari. Pak BHD sudah akan pensiun pada 10Oktober 2010 mendatang.

Dari sudut waktu Presiden sudah sewajarnya menyerahkan nama calon Kapolri kepada Presiden. Sehingga DPR bias mengatur jadwal untuk melakukan Fit dan Propert Test kepada sang calon. Atau pemerintah masih akan memeilhara tabiat lamanya yaitu melakukan sesuatu yang urgent tapi tergesa-gesa danterkesan tertutup? Semoga tidak..

Dua atau satu nama?
Penasaran pertama dikalangan masyarakat dan termasuk jajaran Bhayangkara adalah berapa nama yang akan diusulkan oleh Presiden kepada DPR. Apakah dua atau satu nama saja? Apakah Irjen Nanan Sukarna atau Imam Sudjarwo? Atau apakah ada wacana untuk menciptakan sejarah baru dalam pemilihan Kapolri yaitu dengan menduetkan keduanya menjadi Kapolri dan Wakapolri? NAmun wacana ini menurut saya akan menylitkan, mengingat akan sulit untuk menentukan siapa Polri-I dan siapa pula Polri-II.

Issue calon “Ketiga”

Penasaran kedua mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu: Jangan-jangan pak Be Ye punya calon lain atau calon ke tiga? Hal ini bias muncul apabila menurut pandangan presiden, dari dua nama yang telah masuk istana tidak memenuhi criteria. Tentu bila ini yang terjadi, pak Be Ye sudah harus mengantongi nama calon lain dimaksud. Atau apakah sudah ada?

Issue ini menurut saya memang tidak begitu berdasar. Mengingat bila sang Presiden tidak memilih salah satu dari dua nama yang sudah masuk istana, maka masih harus melakukan koordinasi dengan Kapolri yang menjabat dan juga kepada Kompolnas sebagai salah satu pihak yang berkaitan dalam pemilihan Kapolri baru ini. Sehingga dugaan ini akan kecil kemungkinan kebenarannya.

Disamping itu, masa pengabdian Kapolri lama tinggal 9 hari lagi atau tak lebih dari dua minggu. Ah.. Tak mungkinlah akan lahir calon baru yang akan jadi kuda hitam kepada dua nama yang sudah duluan di utak-atik oleh Pak Beye hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Semoga saja tidak.

Issue Persaingan Internal Polri?
Penasaran ketiga adalah dengan adanya issue bahwa di kalangan internal Polri terjadi persaingan tidak sehat atau kelompok-kelompok pendukung salah satu calon tertentu. Issue ini tentu tidaklah sedap didengar oleh kalangan luas. Mengingat hal ini akan sangat berdampak buruk pada kepemimpinan Kapolri mendatang. Paling tidak bias sudah dilantik, Kapolri baru akan menghabiskan energinya untuk melakukan pembenahan internal. Ini akan menggangggu kinerja Polri dalam melaksanakan tugas yang semakin berat masa kini.

Bahkan yang paling tidak sedap adalah dikaikannya penentuan Kapolri baru dengan kejadian-kejadian terkait terorisme yang ada di Medan- SUmatera Utara. Issue ini muncul karena Kapolda Sumut Sekarang Irjen Pol Oegroseno sebelumnya santer diberitakan merupakan salah satu calon kuat Kapolri. Karena pak Oegro diberitakan adalah salah satu bhayangkara terbaik yang ada saat ini. Sehingga bias saja ada scenario menjatuhkan atau menodai kepemimpinan pak Oegro sehingga menjadi tidak layak jadi calon Kapolri di mata pak Be ye.

Terlepas dari benar atau tidaknya issue ini, kita patut apresiasi sikap dan pernyataan pak Oegro yang secara tegas menyatakan jangan mengaitkan persaingan perebutan Polri-I dengan serangan teroris di Sumut. Ini adalah sikap seorang ksatria yang berbesar hati. Dalam hal ini saya punya pendapat, bahwa pak Oegro sudah merelakan posisi Kapolri dijabat oleh rekan-rekannya sesame bhayangkara yang lain. Apalagi pak Oegro masihla muda, sehingga masa mendatang masih terbuka peluang untuk menjadi Kapolri.

Harapan Masyarakat.

Harapan kita semua tentunya adalah supaya Pak BE Ye tidak lagi berlama-lama merahasiakan siapa dan kapan akan mengusulkan nama calon Kapolri kepada DPR. Harapan lain nantinya adalah, supaya Pak Be Ye sukup menyerahkan satu nama saja ke DPR. Karena bila menyerahkan dua nama, ini bias berbuntut panjang lagi. Selain keadaan ini bisa ditarik ke ranah politik, antara dua nama yang diusulkan bias menimbulkan atau mempertajam persingan yang telah tumbuh sebelumnya.

Kami tunggu pak Presiden.


Wednesday, September 29, 2010

HATI-HATI DISUSUPI TERORIS


Sepak terjang teroris di Negara ini makin mengerikan saja. Terakhir, tanpa ampun kawanan teroris secara membabibuta membunuh tiga anggota Polisi yang sedang tugas ala film koboy di di kantor kepolisian Sektor hamparan Perak-Sumatera Utara.

Keberingasan ini adalah yang ter update dari rentetaan aksi gila teroris yang nyaris tak henti menebar ketakutan public di Negara Indonesia tercinta ini.
Sebab aksi-aksi tak terhitung lainnya juga telah menelan banyak korban jiwa yang tak berdosa di negeri ini. Masih segar dalam ingatan berbagai tragedy yang merupakan olah para teroris diantaranya; Bom Bali I dan II, Bom Kuningan di depan Kedubes Autralia, dan juga bom hotel JW Marriot yang turur mempengaruhi batalnya kedatangan Klub Idola saya asalah Inggris Manchester United.

Negara dalam hal ini pihak keamanan sebenarnya sudah berusaha dengan segala upaya, daya dan dana untuk memberantas teroris ini. LIhatlah penangkapan-penangkapan yang telah dilakukan Polri khususnya Detasemen khusus atau Densus 88 terhadap pentolan-pentolan teroris di Indonesia

Keberhasilan ini sempat membagkitkan keyakinan masayarakat bahwa teroris telah tertumpas dari tengah-tengah negeri ini. Alasannya adalah jika bos-bos sebuah kelompok sudah tertangkap, hampir pasti gerakan kelompok ini akan lumpuh. Belum lagi hukuman yang memang setimpal seperti hukuman mati secara tegas dialamtkan kepada para actor pelaku terror.

Namun faktanya sungguh tidak seperti dugaan masyarakat. Aksi-aksi terror yang tak henti-hentinya telah memenggal asa kita untuk meyakini bahwa pelaku terror sudah menyerah. Sebab selain berubahnya modus serangan terror, wilayah serangan mereka malah makin meluas tidak lagi hanya di daerah Jawa. Melainkan telah menebar dan melakukan terror diberbagai kota seperti Medan, Bandung, Surabaya dan lain-lain. Plus adanya strategi-strategi baru yang dijadikan sebagai juklak terror.

Saya melihat salah satu penyebab kuatnya akar teroris di Indonesia adalah karena begitu Pintar dan Cepatnya mereka menyusupi suatu kelompok, komunitas bahkan sampai kepada pihak musuh sekalipun.

Siapa saja yang mungkin telah dan akan disusupi Teroris?

Pesantren/Pengajian
Masjid sudah jelas menjadi lahan subur bagi bag teroris untuk merekrut anggota baru. Entah apa sebabnya, saya kurang tahu. Tapi itulah faktanya. Sehingga disarankan kepada para pimpinan pesantren supaya benar-benar hati-hati dan selektif terhadapanggota pengajian. Jangan lagi kecolongan untuk kesekian kalinya.

Kepolisian
Sangat mengejutkan bahwa beberapa pentolan teroris akhir-akhir ini malah adalah anggota/mantan anggota kepolisian dan TNI. Pelatihan teroris di Aceh yang beru-baru ini mengungkap fakta ternyata di dalangi oleh salah satu mantan anggota kepolisian. WAw… Lebih mengejutkan lagi bahwa pembunuhan seorang personil Polisi di salah satu polsek Jawa malah dilakukan oleh seorang mantan anggota TNI yang punya link dengan teroris.

Media
Media juga nampaknya telah dicoba susupi oleh teroris. Jujur saya merasa miris membaca beberapa Koran terutama Koran lokal yang nampaknya malah melakukan pemberitaan-pemberitaan yang tendensius membela bahkan mendukung para pelaku terror di negeri ini. Mungkinkah media telah disusupi teroris? Bisa saja. Hati-hatilah kiranya para awak dan pimpinan media baik elektronik maupun cetak.

Aparat Pemerintah.

Mungkinkah?? Mungkin saja, mengingat apara/person pemerintah bias saja punya link secara pribadi dengan kelompok terror yang ada. Sehingga person-person yang sudah tersusupi ini bias mengimpartasikan “ilmu baru” nya ke dalam lembaga yang dihuni terutama yang di pimpinnya. Kiranya pemerintah punya prevensi untuk hal-hal semacam ini.

Mari sama-sama berantas dan temukan cara memenggal visi dan misi para pelaku terror di Indonesia.