Mission Started. Misi telah dimulai. Kiranya Tuhan Memberkati..

Saturday, March 21, 2009

Par Da Si..!!

Sebelumnya saya minta maaf kepada Bapak/Ibu/sdra/i yang berasal dari Simalungun ataupun bermarga Simalungun. Karena tulisan saya saat ini menyangkut suatu komunitas aneh dari daerah Simalungun...Saya memang suka mengembangkan kalimat-kalimat ataupun statemen dari manapun berasal yang saya pikir unik dan menarik untuk disimak dan dianalisa lebih dalam.

Berawal ketika kami ibadah malam di rumah jemaat kami bermarga pasaribu yang mana di akhir ibadah kami disuguhi "Lappet" seperti tulisan saya sebelumnya. Waktu itu Pendeta kami dalam khotbahnya sedikit bernostalgia tentang pengalaman mereka KKR di daerah Simalungun.. Singkat cerita bahwa di sana mereka terkejut dan sekaligus "mempersiapkan diri" karena mendengar bahwa disana ada satu komunitas dukun yang menamakannya "PARDASI", singkatan dari " PARSADAAN DATU SIMALUNGUN".

Ha..ha..., sedikit menggelitik...Tapi "marsisir imbulu" mendengarnya..Maklum..mendengar kata Dukun ini...langsung teringat film-film indosiar yang menurut saya telah dimanifestasi oleh kuasa Iblis... Kalau boleh jujur..waktu itu saya jadi kurang konsen mendengar kelanjutan khotbah pendeta kami..Gimanalah..pikiran saya pun dah jauh2 menerawang sampai-sampai ke


si "Ponari" yang saat itu lagi rame-rame nya diperbincangkan orang....

Aneh...sungguh aneh...tapi nyata...Fenomena Ponari dan menjamurnya perdukunan supranatural yang bahkan sudah membentuk komunitasnya sungguh sedih untuk diterima. Masyarakat sudah memilih jalan yang instan untuk mendapatkan kesembuhan misalnya. Ini tentu berdampak negatif pada pertumbuhan keyakinan agama mana pun...

Tapi ini mungkin bisa menjadi referensi kepada pemerintah kita khususnya Departemen kesehatan. sangat mungkin bahwa ketidak puasan publik pada kebijakan pemerinta tentang kesehatan masyarakat, menjadi alasan orang untuk memilih "jalan dukun" sebagai alternatif untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit. Ini khususnya kepada masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Kalau orang-orang berduit, masih bisa "jajan" ke negeri tetangga kalau merasa di negeri sendiri tidak dilayani dengan memuaskan.

Tapi dua-dua nya tetap menjadi bencana bagi Rakyat indonesia, bila kebijakan pemerintah tidak berubah untuk memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat Indonesia....

Oh..PARDASI.....Hei PONARI..., kacian rakyat Indonesia ya.....


Monday, March 16, 2009

Oh Lappet..! Nasibmu kini!!

Lappet..(Lepat).. Masihkah bertahan sebagai "trade mark"nya orang Batak???

Di masa SMP dulu, ada gru bahsa Inggeris kami bermarga Sijabat yang selalu mengejek muridnya dengan sebutan "..Lappet..". Sikit2 klo seorang siswa ga bisa jawab pertanyaan selalu bilang,, Oh,... Lappet. Termasuk saya sendiri, pernah juga kena batunya jadi si lappet..ha..ha..

Akan tetapi "Lappet"
(Lepat dalam B Indo) yang saya maksud disini adalah sejenis makanan khas yang selama ini telah menjadi trade marknya orang Batak, khususnya mereka yang hidup di daerah Toba, Tapanuli dan Samosir Nauli. Nyaris di setiap moment dilingkungan orang, siLappet selalu terhidangkan, baik itu pesat, Kebaktian, termasuk momen tahun baru, maupun acara2 lainnya.

Lappet ini beraneka ragam jenisnya. Ada 'ombus-ombus", ada lappet Hasang, ada pula lappet Pulut dan macam2 lah. Bagi saya sendiri, "Ombus-ombus" selalu jadi pilahan pertama di antara jenis lappet lainnya.

Namun seiring dengan perubahan masa, tradisi dan budaya, nampaknya Lappet pun mulai ditinggalkan secara pelan-pelan oleh orang Batak. Baik tradisi menyajikan, maupun sudah sangat jarangnya ditemukan ibu-ibu orang batak yang mahir meracik si Lappet.

Jujur, saya membuat tulisan ini karena terinspirasioleh ksedihan saya melihat fenomena ini. Ketika itu sehabis ibadah malam di rumah ibu boru Napitupulu bersuamikan marga Pasaribu dihidangkan Lappet. Persisinya ombus-ombus.. Sangat enak, manis dan menggoda lidah untuk tak berhenti melahapnya.

Lalu si Ibu saya tanya: '...Ibu sendiri yang buat..'?
Oh..bukan adekku!!! Itu tadikami pesan jauh2 dari (entah darimana saya lupa). Hari gene,,mana ada lagi ibu2 batak yang pintar meracik lappet, baik di kampung apalagi di Kota medan...!

Oh ..Lappet...nasibmu kini!!!